Tak Ingin Meratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia

0
Airbus A380 dikonfugurasi ulang Hi Fly sebagai angkutan kargo, menjadikannya sebagai yang pertama di dunia. Foto: Getty Images via Simple Flying

Ketika mayoritas maskapai di dunia meng-grounded pesawat Airbus A380 akibat frekuensi penerbangan anjlok ke titik nadir, Hi Fly justru melawan arus. Alih-alih meng-grounded sambil gigit jari, menunggu kembalinya iklim industri penerbangan sebagaimana mestinya, maskapai penerbangan carter asal Portugal itu malah menjadikan pesawat komersial terbesar di dunia itu sebagai angkutan kargo pertama di dunia.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Keputusan Hi Fly tersebut sempat mengagetkan banyak pihak. Setidaknya ada dua hal yang melatarbelakanginya. Pertama, terkait dengan kemampuan. Dari segi kemampuan, utamanya soal dimensi, A380 mungkin sangat menarik untuk mengangkut 800 penumpang sekaligus dalam sekali jalan. Sayangnya, itu tak berlaku bila A380 dikonfigurasi ulang jadi varian angkutan kargo.

Menurut banyak ahli, ada empat alasan utama mengapa Airbus A380 tak cocok menjadi angkutan kargo. Mulai dari maslaah efektivitas, fleksibilitas, dimensi, dan bobot pesawat. Dengan empat alasan tersebut, mengkonfigurasi ulang A380 menjadi angkutan kargo dinilai minim peluang, bila tidak ingin disebut ‘bunuh diri’ andai memaksakan diri melakukannya.

Alasan kedua, Lufthansa Technik, sebagaimana dilaporkan Simple Flying, dua bulan lalu, memang sempat menyatakan dukungan kepada seluruh maskapai yang ingin tetap terus memanfaatkan A380 dengan menjadikannya sebagai angkutan kargo. Dari beberapa pihak yang mendaftar, Hi Fly sama sekali tak masuk radar.

Meski demikian, faktanya, saat ini, Airbus A380 bekas purna tugas Singapore Airlines milik Hi Fly tersebut sudah benar-benar beralih fungsi, dari semula membawa penumpang menjadi mengangkut muatan kargo sampai ke dek teratas. Namun, tak semua kursi dilepas. Lagi pula, dek teratas kapasitasnya cukup terbatas. Jadi, space yang ada, besar kemungkinan tak mampu dimaksimalkan maskapai dengan baik.

Di dek teratas, Hi Fly masih menyisakan sekitar tiga kursi, di belakang, tengah, dan depan. Demikian juga dengan lantai berikutnya. Di lantai kedua atau dek utama, sekitar 2/3 bagian kursi dilepas dan difungsikan sebagai kargo dengan hanya menyisakan kursi business class dan first class.

Harga mahal dari itu, dek utama dinilai mampu mengakut sekitar 164,56 meter kubik kargo, dengan rincian 16,25 di overhead cabin dan 148,32 lainnya di lantai. Sedangkan untuk dek paling bawah, Airbus A380 mampu memuat total 133,3 meter kubik kargo, dengan rincian 77 di kompartemen depan, 42 di kompartemen belakang, dan 14,3 di bulk compartement.

Baca juga: Isi Rute Kosong, HiFly Tertarik Operasikan Lebih Banyak Airbus A380

Sebetulnya, sebelum benar-benar mulai menjalin kemitraan dengan Lufthansa Technik, mengkonfigurasi ulang A380 menjadi angkutan kargo, Hi Fly dikabarkan sempat mendapat beberapa tawaran kerjasama berupa penerbangan charter dengan skema sewa basah atau wet lease.

Namun, perusahaan pada akhirnya tetap memilih mengikuti tantangan zaman, menjadikan pesawat A380 sebagai angkutan kargo, yang saat ini tengah melejit akibat pengiriman APD dan masker dari dan ke berbagai diunia sebagai ‘senjata’ dalam perang melawan pandemi Covid-19.

Leave a Reply