Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

0
Zephyr Seat double-decker, desain kursi pesawat yang lahir karena ketidakpuasan sang founder terhadap Singapore Airlines. Foto: Zephyr Aerospace, via CNN International

Banyak inovasi diawali oleh sebuah pengalaman tak memuaskan. Tak terkecuali dengan Jeffrey O’Neill. Pemuda jebolan sekolah manajemen Boston University ini sampai harus mengeluarkan desain kursi kelas ekonomi premium jarak jauh, Zephyr Seat, setelah mengalami pengalaman tak menyenangkan bersama salah satu maskapai terbaik di dunia, Singapore Airlines.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Dalam pengakuannya kepada CNN International, cerita pengalaman buruknya bersama Singapore Airlines bermula saat ia menumpangi pesawat rute New York-Singapura beberapa tahun yang lalu. Dengan menempuh jarak sejauh 18 jam 45 menit nonstop, kursi kelas ekonomi premium yang ia tumpangi nyatanya tak membuat ia bisa dengan mudah berbaring. Alhasil, selama perjalanan, ia tak bisa tidur.

“Saya mungkin berada di maskapai penerbangan berperingkat terbaik di dunia, dan saya mendapatkan layanan yang luar biasa dan makanannya bisa dimakan, tetapi saya tidak bisa tidur,” kenang founder sekaligus CEO Zephyr Aerospace ini.

“Ini benar-benar tidak nyaman. Mengapa sangat sulit untuk menemukan cara yang terjangkau untuk berbaring di (pesawat) penerbangan selama 19 jam?” lanjutnya.

Zephyr Seat memudahkan penumpang untuk berbaring di kursi ekonomi premium pada penerbangan jarak jauh. Foto: Zephyr Aerospace via CNN International

Menariknya, pengalaman buruk bersama Singapore Airlines itu seolah mendapat antitesa. Kala itu, saat dalam perjalanan di Argentina sekitar dua tahun lalu, ia menumpangi sebuah bus yang menawarkan fasilitas kursi double-decker. Saat mencobanya, ia pun teringat dengan pengalaman buruk bersama Singapore Airlines tadi. Dari situlah ia terpikir untuk menghadirkan desain kursi interior pesawat –nyaris serupa dengan yang ia alami- pada penerbangan ekonomi premium jarak jauh (long haul).

Dilihat dari dimensi dan bentuknya, desain double-decker Zephyr Seat bisa dibilang memanfaatkan celah atau ruang kosong antara kursi (standar) dengan kompartemen kabin (overhead). Karena bentuknya memanjang ke atas, memuat satu orang di bawah dan lainnya di atas, Zephyr Seat juga dibilang lebih menjaga privasi dan bahkan ancaman wabah Covid-19 sekalipun, mengingat, saat ini ICAO telah merekomendasikan untuk menerapkan aturan physical distancing di pesawat.

Tentu, secara tidak langsung, Zephyr Seat telah menerapkan hal tersebut tanpa harus mengkosongkan kursi, sebagaimana desain interior kursi yang ada saat ini.

Dengan begitu, walaupun satu kursi diisi hanya satu orang, maskapai tetap bisa menjaga kapasitas mirip seperti desain ekonomi premium sebelumnya, dengan konfigurasi 2-4-2. Hanya bentuknya saja yang dibuat memanjang ke atas. Penumpang pun bisa dengan mudah berbaring atau duduk berkat adanya kursi retract yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

“Kami pada dasarnya memasang kembali seluruh kursi di atas yang lain. Jadi dibuat dua tingkat dan tidak setinggi seperti yang dibayangkan, hanya empat setengah kaki dari space masuk kursi bawah ke kursi atas,” jelasnya.

Baca juga: Sambut New Normal, Interior Kabin ini Digadang Mampu Cegah Sebaran Corona di Pesawat

Meskipun masih desain tahap awal, O’Neill mengaku telah membuka komunikasi dengan empat maskapai besar di Amerika Serikat (AS), termasuk Delta Air Lines. Pada tahun 2019 lalu, ia juga pernah membawa desain ini ke Airline Interiors Expo di Hamburg, Jerman dan mendapat beberapa masukan untuk menjadikan Zephyr Seat double-decker lebih diterima di pasaran. Selain itu, Zephyr Seat juga digandag-gadang jadi desain kursi masa depan.

“Harga untuk kelas bisnis dan first class akan meningkat tajam jauh dari biasanya, mungkin sekitar 85 persen. Itu berarti pilihan traveler yang paling terjangkau namun nyaman –di luar kelas bisnis dan first class- kini menjadi kenyataan,” tutupnya.

Leave a Reply