Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Trenzing.di (Foto KM Tampomas II)

Sabtu, 20 Mei 2017 menjadi hari kelabu dalam dunia pelayaran di Tanah Air, kapal ferry RoRo KM Mutiara Sentosa I mengalami musibah terbakar di Perairan Masalembo, dalam kejadian tersebut lima penumpang dilaporkan tewas dan 192 penumpang lainnya berhasil menyelamatkan diri. Masih di perairan yang sama, 25 Januari 1981, pelayaran Indonesia digemparkan dengan tragedi KM Tampomas II yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Makassar.

Baca juga:  Berusia 30 Tahun, KM Mutiara Sentosa I Makan Korban Jiwa

Flash back ke kejadian 36 tahun lalu, KM Tampomas II terbakar di sekitaran kepulauan Masalembo. Kejadian ini mengakibatkan 431 orang tewas termasuk nakhoda kapal Abdul Rivai dengan 288 penumpang hilang bersama kapal dan 753 orang berhasil diselamatkan.

Pada waktu itu, diketahui KM Tampomas II mengangkut 1.055 penumpang terdaftar dengan 82 awak kapal dan terdapat 191 mobil dan 200 motor di dalam kapal. Saat itu bila ditotal dengan penumpang gelap, jumlah penumpang KM Tampomas II sekitar 1442 orang. Sebelum terjadi kebakaran, memang KM Tampomas II mengalami kerusakan pada salah satu mesin kapal. Namun dalam perjalanan, hingga 24 Januari malam, tidak terjadi apapun walaupun kondisi salah satu mesin rusak.

Tetapi, saat itu ombak bulan Januari sangat besar dibandingkan bulan lainnya yakni sekitar 7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knots dan sangat wajar terjadi. Pada 25 Januari pagi, keadaan KM Tampomas II pun berlangsung seperti biasa. Nahas, 25 Januari malam tepatnya pukul 20.00 WITA, laut tengah terjadi badai yang hebat, beberapa mesin mengalami kebocoran bahan bakar dan puntung rokok dari ventilasi menyebabkan percikan api.

Kru yang melihat kejadian ini, mencoba memadamkan dengan tabung pemadam portabel tetapi gagal. Api justru semakin menjalar dan menyebabkan selama dua jam tenaga utama mati serta generator darurat pun gagal sehinggaa usaha pemadaman dihentikan karena tidak memungkinkan apalagi ditambah bahan bakar yang masih ada di setiap kendaraan. Sayangnya pemberitahuan kepada penumpang, terlambat untuk memberitahukan arah dan lokasi sekoci. Karena hanya ada satu jalan untuk menuju sekoci dan penumpang ribuan, membuat banyak dari mereka (penumpang) yang terjun bebas kelaut dan sisanya menunggu pertolongan dengan panik.

Baca Juga: Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni?

Karena adanya kebakaran ini, KM Sangihe yang dalam perjalanan dari Pare-Part menuju Surabaya dan dilanjut dengan KM ILmamui pada pukul 21.00 langsung membantu. Kemudian disusul empat jam kemudian kapal tangker Istana IV dan masih berdatangan kapal lainnya yakni Adhiguna Kurnia dan KM Sengata datang untuk membantu menyelamatkan korban. Tanggal 27 Januari, tepatnya dua hari setelah KM Tampomas II terbakar, terjadi ledakan di ruang mesin dan membuat kapal miring hingga 45 derajat dan pada pukul 13.45 WITA akhirnya KM Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa dengan 288 korban tewas di dek bawah.

Baca Juga: Kereta Ferry, Sensasi Naik Kereta di Tengah Laut

KM Tampomas II awalnya bernama MV Great Emerald diproduksi tahun 1956 oleh Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, tergolong jenis Kapal RoRo (Roll On-Roll Off) dengan tipe Screw Steamer berukuran 6139 GRT (Gross Registered Tonnage) dan berbobot mati 2.419.690 DWT (Dead-Weight Tonnage). Kapal ini berkapasitas 1250-1500 orang penumpang, dengan kecepatan maksimum 19.5 knots. Memiliki lebar 22 meter dan Panjang 125,6 meter.

Kemudian kapal ini dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional) dari Pihak Jepang, Comodo Marine Co. SA seharga US$8.3 Juta. Kemudian di beli oleh PT PELNI dengan cara mengangsur. Pertama kali di operasikan di Indonesia, kapal ini melaju melayani rute Jakarta – Padang dan Jakata – Ujung Pandang (Makassar) yang memang padat. Selesai berlayar, kapal ini diberi waktu beristirahat selama empat jam sebelum kembali berlayar. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal pun hanya dapat dilaksanakan sekadarnya saja, padahal mengingat usianya yang sudah cukup berumur, seyogyanya kapal ini perlu mendapat perawatan yang jauh lebih cermat.

Baca Juga: Tanjung Perak Tepi Laut, Riwayat Pelabuhan Kedua Tersibuk di Indonesia

Kejadian terbakarnya KM Tampomas II di Kepulauan Masalembo mengingatkan kejadian baru terjadi pada 19 Mei 2017, dimana KM Mutiara Sentosa I terbakar di perairan Masalembo. Tak hanya itu kejadian di Kepulauan Masalembo yakni di perairan Majene pada 1 Januari 2007 atau sekitar 10 tahun lalu.