Sunday, February 22, 2026
HomeAnalisa AngkutanTantangan Transit: Bandara Internasional dengan Jarak Antar Terminal Berjauhan

Tantangan Transit: Bandara Internasional dengan Jarak Antar Terminal Berjauhan

Perkembangan pesat industri penerbangan global telah melahirkan banyak hub besar yang dirancang untuk menangani jutaan penumpang dan ribuan penerbangan setiap hari. Namun, perluasan ini seringkali menghasilkan kompleks bandara yang membentang luas, di mana jarak antar terminal dapat menjadi kendala serius bagi penumpang transit.

Chicago O’Hare International (ORD), Amerika Serikat
Salah satu contoh klasik adalah Bandara Internasional O’Hare di Chicago. Bandara ini memiliki empat terminal utama (Terminal 1, 2, 3, dan 5). Meskipun Terminal 1, 2, dan 3 saling berdekatan dan terhubung melalui area airside (area setelah pemeriksaan keamanan), Terminal 5 (Terminal Internasional) terpisah jauh dari terminal domestik.

Penumpang yang tiba dari penerbangan internasional di Terminal 5 dan harus melanjutkan perjalanan domestik dari Terminal 1-3 wajib keluar dari area keamanan, naik Airport Transit System (ATS)—kereta people mover yang panjang—dan melewati pemeriksaan keamanan lagi di terminal domestik mereka. Jarak dan kebutuhan untuk melewati imigrasi/bea cukai membuat transit di O’Hare memerlukan alokasi waktu yang sangat panjang.

London Heathrow (LHR), Inggris
Bandara Heathrow di London dikenal karena kompleksitas transitnya. Meskipun beberapa terminal telah ditutup, LHR kini fokus pada empat terminal utama (2, 3, 4, dan 5). Khususnya, Terminal 4 dan Terminal 5 memiliki lokasi yang cukup berjauhan dari Terminal 2 dan 3.

Untuk berpindah antara Terminal 5 (yang digunakan eksklusif oleh British Airways) dan terminal lainnya (terutama Terminal 4), penumpang harus menggunakan Heathrow Express atau Shuttle Train Bawah Tanah atau shuttle bus khusus. Meskipun layanan ini efisien, jarak tempuh, ditambah proses pemeriksaan keamanan jika berpindah dari airside ke landside, seringkali memakan waktu 20 hingga 40 menit secara keseluruhan, menjadikannya kurang ideal untuk transit cepat.

Senyapnya Langit Dini Hari: Mengapa Bandara Internasional Jarang Beroperasi Penuh 24 Jam

Paris Charles de Gaulle (CDG), Perancis
Bandara Charles de Gaulle di Paris adalah salah satu bandara dengan tata letak yang paling tersebar di Eropa. Bandara ini terbagi menjadi Terminal 1, Terminal 2 (yang terdiri dari sub-terminal 2A hingga 2G), dan Terminal 3.

Jarak fisik antara terminal-terminal ini sangat signifikan. Misalnya, untuk berpindah dari Terminal 1 ke bagian terjauh dari Terminal 2 (seperti 2G), penumpang harus menggunakan sistem CDGVAL (kereta otomatis bandara) yang berjalan di sepanjang area bandara. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk menavigasi dari satu ujung ke ujung lain, dan terkadang shuttle bus diperlukan untuk terminal tertentu seperti 2G, yang dapat melintasi landasan (tarmac), menambah waktu tunggu dan durasi perjalanan secara keseluruhan.

Bandara Charles de Gaulle dan Soekarno-Hatta Ternyata Sama-sama Gunakan Kereta Shuttle dengan Roda Ban

Frankfurt Airport (FRA), Jerman
Bandara Frankfurt memiliki Terminal 1 dan Terminal 2 yang merupakan dua struktur besar. Meskipun ada Skyline people mover yang menghubungkan keduanya, Terminal 2 terletak cukup jauh melintasi area parkir pesawat dari Terminal 1. Bagi penumpang yang transit antara penerbangan Lufthansa (yang berpusat di Terminal 1) dan maskapai mitra (banyak di Terminal 2), perpindahan ini terasa lama. Jarak fisik yang membentang luas ini, ditambah dengan kebutuhan untuk melintasi area bandara yang sangat sibuk, membuatnya wajib mengalokasikan waktu transit yang memadai.

Dubai International Airport (DXB), Uni Emirat Arab
DXB memiliki tiga terminal (Terminal 1, 2, dan 3) yang menangani volume penumpang internasional terbesar di dunia.

Meskipun Terminal 3 (eksklusif untuk Emirates) dan Terminal 1 terhubung melalui kereta otomatis dan koneksi airside yang cukup baik, Terminal 2 (yang melayani sebagian besar maskapai regional dan penerbangan bertarif rendah) terletak jauh di ujung yang berlawanan dan terpisah sepenuhnya dari T1 dan T3.

Bukan Hanya Kuwait, Inilah Negara-negara yang Berlakukan Visa Transit Meski Penumpang Tak Keluar Bandara

Perpindahan ke dan dari Terminal 2 harus dilakukan menggunakan layanan shuttle bus resmi bandara yang melintasi jarak yang signifikan di area tarmac bandara. Hal ini memerlukan waktu tambahan sekitar 20–30 menit, membuatnya menjadi titik hambatan yang signifikan bagi penumpang yang transit melalui Terminal 2.

Pada umumnya, bandara-bandara ini berusaha mengatasi tantangan jarak dengan menyediakan solusi transportasi seperti people mover (kereta antar terminal otomatis), shuttle train bawah tanah, atau shuttle bus yang berjalan cepat. Meskipun begitu, tantangan tetap ada karena layanan shuttle seringkali tidak dapat sepenuhnya mengimbangi kecepatan berjalan kaki di terminal yang terhubung langsung (airside connection). Oleh karena itu, bagi penumpang yang melakukan transit di bandara-bandara besar ini, selalu disarankan untuk mengalokasikan waktu transit minimal dua jam atau lebih.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru