Tekan Penyebaran Virus Corona, Social Distancing di Transportasi Umum Harusnya Pikirkan Soal Jarak Antrian

0
Foto; Tempo.co

Dalam usahanya menekan penyebaran wabah virus corona (covid-19), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Minggu, 15 Maret 2020, telah mengumumkan sejumlah pembatasan pada layanan transportasi massa yang dibawah naungan Pemprov DKI Jakarta, yaitu dengan dikurangi layanan pada TransJakarta, MRT Jakarta dan LRT Jakarta.

Pembatasan layanan pada ketiga moda tulang punggung transportasi warga DKI tersebut, dimaksudkan Anies sebagai langkah untuk mengurangi social distancing bagi para pengguna moda, dimana diharapkan potensi penyebaran virus corona dapat ditekan.

Meski punya tujuan mulia, namun dari pantauan di lapangan pada Senin pagi (16/3/2020), justru yang terjadi adalah antrian parah dan mengular di beberapa halte dan stasiun MRT. Pemandangan yang paling heboh terjadi kawasan halte Puri Beta 2, Ciledug, Tangerang, Banten. Begitu pula antrian panjang juga terjadi di akses masuk Stasiun MRT Lebak Bulus, Stasiun MRT Fatmawati dan Stasiun MRT Dukuh Atas.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Dampak pembatasan layanan #transjakarta – nampak antrian super panjang di halte Puri Beta 2, Ciledug, Tangerang, Banten. @pt_transjakarta #krisistransportasijakarta

Sebuah kiriman dibagikan oleh KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) pada

Disini yang menjadi tantangan dari kebijakan Anies adalah mayoritas perkantoran dan usaha di DKI Jakarta masih berjalan normal, meski sekolah dan perkuliahan diluburkan, tapi rupanya itu tak mampu menekan tujuan untuk mengurangi social distancing.

Berkaca pada kebijakan yang diambil di beberapa kota dan negara di luar negeri untuk menekan penyebaran corona, social distancing memang telah diambil sebagai langkah taktis. Seperti di Singapura, setiap prasarana transportasi yang memaksa penumpang antri, maka diwajibkan jarak antar pengantri satu sama lain adalah satu meter.

Meski begitu, netizen di Singapura kebijakan pada pemberian jarak antian sangat sulit diterapkan pada jam-jam sibuk di stasiun SMRT, seperti contohnya saat berangkat dan pulang kantor.

Nah, melihat hari pertama penerapan pembatasan layanan transportasi di DKI Jakarta, apakah kebijakan Gubernur Anies dapat diteruskan di hari-hari mendatang? Mengingat jika terjadi penumpukan calon penumpang di luar halte dan stasiun, dikhawatirkan justru akan mempersubur penyebaran virus corona.

Pembatasan Layanan Transportasi di DKI Jakarta

MRT Jakarta
Jadwal MRT akan berubah, dari yang semula beroperasi pukul 05.00 hingga 24.00 WIB, mulai Senin (16/3/2020) akan beroperasi dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Perjalanan MRT dari yang sebelumnya setiap 5 dan 10 menit, mulai Senin juga akan diubah menjadi setiap 20 menit. Rangkaian MRT juga akan dikurangi menjadi empat rangkaian, dari yang sebelumnya 16 rangkaian.
Kapasitas gerbong dari 300 orang akan disusutkan menjadi hanya 60 orang untuk menghindari berdesakan dan interaksi dekat.

LRT Jakarta
Jadwal LRT akan berubah, dari yang semula beroperasi pukul 05.30 hingga 23.00 WIB, mulai Senin akan beroperasi dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Perjalanan LRT dari yang sebelumnya setiap 10 menit, mulai Senin akan diubah menjadi setiap 30 menit.

TransJakarta
Jadwal TransJakarta akan berubah, dari yang semula beroperasi 24 jam, mulai Senin akan beroperasi dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Rute TransJakarta juga akan dikurangi menjadi hanya 13 rute dari 248 rute yang ada. Keberangkatan akan dilakukan setiap 20 menit sekali.

Leave a Reply