Teknologi Aircraft Towing System Janjikan Penghematan Bahan Bakar dan Tekan Emisi C02!

0
Aircraft towing system dipercaya mampu menggantikan posisi pushback tracktor/truck ataupun towbarless tug dan tentu saja penghematan bahan bakar serta emisi CO2, yang banyak dihasilkan saat taxiing. Foto: ATS World Wide

Teknologi aircraft towing disebut sangat sejalan dengan upaya mengurangi emisi karbon dioksida (C02) sekaligus menghemat bahan bakar pesawat sebelum lepas landas.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Di dunia, teknologi yang juga disebut towbarless tug ataupun towbarless aircraft tug tersebut teknisnya sangat beragam. Ada yang berupa TaxiBot atau towbarless tug semi-robotic yang dioperasikan di Bandara Internasional Indira Gandhi (Delhi). Ada pula bentuk lain, seperti yang tengah dikembangkan oleh ATS World Wide.

Dilansir dari New Atlas, perusahaan yang berbasis di Oklahoma, Amerika Serikat (AS) itu diketahui sedang mengembangkan Aircraft Towing System (ATS). Teknologi aircraft towing ini dinilai lebih efektif dan efisien ketimbang towbarless tug semi-robotic yang digunakan di India ataupun WheelTug.

Sebab, ATS sudah dirancang sedemikian rupa membentuk berbagai jalur yang saling terhubung hingga membentuk sejenis sirkuit.

Teknisnya, sistem ini tertanam di bawah permukaan aspal runway sampai ke bawah permukaan apron. Kemudian, pesawat akan ditarik oleh pullcar dengan sistem monorail usai mendarat dan berhenti di titik yang sudah ditentukan. Ban atau roda depan pesawat yang sudah dikunci menggunakan wheel chocks lalu ditarik terus sampai ke apron.

Bila pesawat ingin kembali digunakan, pullcar tadi akan menuntun pesawat sampai ke runway untuk lepas landas.

Seluruh sistem dijalankan secara terkomputeriasi atau otomatis. Sehingga pilot tidak perlu mengarahkan pesawat. Tak hanya itu, staf ATC juga tidak berlu berkomunikasi dengan pilot untuk memberitahu lokasi runway untuk lepas landas. Cukup atur di sistem dan pullcar akan mengangkat dan mengunci roda depan menggunakan wheel chocks untuk dibawa ke runway yang sudah ditentukan.

Hasil penelitian dari para peneliti di Oklahoma State University, ATS dapat meningkatkan throughput pesawat di bandara hingga 30 persen.

“Saat ini ketika sebuah pesawat mendarat, biasanya akan dihandle oleh sekitar empat orang yang berbeda mulai dari landing dan sampai ke apron,” kata CEO ATS World Wide, Vince Howie.

“Dan 80 persen dalam proses itu, pilot mengemudikan pesawatnya sendiri, tanpa arah. Kami akan menggunakan sistem itu, dan sepenuhnya mengotomatisasi dan mengoptimalkannya,” jelasnya.

Mengingat sistemnya modular, bandara dengan anggaran kecil tentu tidak sanggup membiayai sistem untuk pushback saat ingin lepas landas dan menarik pesawat sampai ke gate sehabis mendarat, mengingat biayanya bisa mencapai US$150 juta atau sekitar Rp2,1 triliun (kurs 14.402). Tetapi, mereka bisa memilih salah satunya.

Menurut perusahaan, bandara kecil dengan anggaran terbatas baiknya menggunakan sistem pushback aircraft towing system, membantu pesawat melakukan pushback dan menariknya sampai ke runway. Sistem ini dalam waktu dekat akan mulai beroperasi di Bandara Ardmore Municipal Oklahoma, AS.

Baca juga: Pertama di Dunia, Bandara Delhi Catat 1.000 Pergerakan TaxiBot! Hemat 214 Ribu Liter Avtur

Meski mahal, Howie menjamin bahwa investasi sebesar itu (Rp2,1 triliun untuk paket lengkap aircraft towing system) akan kembali dalam tempo dua tahun. Itu dihasilkan dari penghematan biaya bahan bakar penerbangan selama taxiing menuju runway ataupun menuju apron usai mendarat.

“Delapan puluh persen armada komersial adalah 737 atau A320. Mereka membakar sekitar sembilan galon bahan bakar per menit selama taxiing. Waktu taxiing rata-rata di AS adalah antara 16 dan 27 menit. Di bandara besar, Anda akan memiliki lebih dari 800.000 pergerakan per tahun. Jadi jika Anda mengambil sembilan galon bahan bakar itu, dikali 16 menit, dikali 800.000, dikali berapa pun harga bahan bakar hari itu, itu berubah menjadi uang sungguhan dengan sangat cepat,” tutupnya.