Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Nyata dan Bukan Hanya Karangan Buya Hamka

0
Kapal Van der Wijck

Siapa yang tak kenal dengan Kapal Van der Wijck? Bila Anda sudah menonton filmnya pasti tahu dan tenggelamnya kapal ini bukan hanya sekedar karangan Buya Hamka. Tetapi ini adalah cerita nyata dan pernah mengarungi laut di Indonesia yang kala itu masih disebut Hindia Belanda.

Baca juga: Hari ini, 9 Tahun Lalu, Kapal MV Rabaul Queen Tenggelam di Papua Nugini, Ratusan Penumpang Tewas

Penasaran dengan kisahnya? KabarPenumpang.com mencoba menghimpun dari berbagai laman sumber dan menemukan berbagai hal tentang keberadaan Kapal Van der Wijck secara nyata. Kapal ini merupakan kapal angkutan penumpang dan barang bertenaga uap yang dimiliki oleh maskapai pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang nantinya menjadi cikal bakal PELNI.

Tugu peringatan tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Kapal Van der Wijck dibangun tahun 1921 silam oleh Maatschappij Fijenoord N.V sebuah pabrik galangan kapal di Fyenoord, Rotterdam, Belanda. Kapal ini memiliki spesifikasi 97,5 meter x 13,4 meter x 8,5 meter dengan berat kotor 2.633 ton. Terbagi dalam beberapa kelas yakni kelas pertama atau VVIP bisa digunakan oleh 60 penumpang, kelas dua atau VIP muat 34 penumpang dan geladak alias kelas ekonomi mampu menampung 999 orang.

Nama kapal ini diambil dari nama seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jonkheer Carel Herman Aart Ven der Wijck. Uniknya kapal ini memiliki nama panggilan yakni “de meeuw” atau “The Seagull” dan merupakan salah satu kapal besar serta megah di era Hindia Belanda.

Bahkan kapal milik Belanda ini memiliki kaitan dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia yang mana pernah mengangkut Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dalam pembuangan mereka Boven Digoel. Van der Wijck mengarungi lautan dalam pelayaran terakhirnya pada 20 Oktober 1936 yang kala itu berlayar dari Makassar – Tanjung Perak (Surabaya) – Tanjung Mas (Semarang) – Tanjung Priok (Jakarta) – Palembang.

Pelayaran terakhir ini karena pada saat Van der Wijck bertolak dari Makassar dan menyinggahi Buleleng, kapal melepas sauh dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok. Namun kapal ini miring saat sudah berada 64 km barat daya Surabaya dan hanya butuh enam menit hingga seluruh badan kapal lenyap tenggelam di Laut Jawa tepatnya di kawasan Westgat yakni Selat di antara Pulau Mauda dan Surabaya.

Saat insiden itu, kapal mengangkut minyak, 300 penumpang lokal dan 30 orang Eropa. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck kemudian tim penyelamat langsung melakukan evakuasi dengan menggunakan delapan pesawat udara berjenis dornier, kapal dan perahu nelayan.

Ada sekitar 20 penumpang yang berhasil dievakuasi dengan pesawat dan dibawa ke Surabaya. Sedangkan perahu nelayan menyelamatkan puluhan penumpang baik pribumi maupun bangsa Eropa. Dari ratusan penumpang selamat, 70 lainnya baik penumpang maupun awak kapal dilaporkan hilang.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck kemudian dilakukan penyelidikan dan Dewan Pelayaran (Raad van Scheepvaart) yang mengurusi perhubungan laut bersidang di Betawi yang saat ini menjadi Jakarta pada 21 April 1937. Pada sidang itu, seorang petugas komunikasi kapal dipuji karena kesigapan dan pengorbanannya.

Ternyata kapten kapal yakni Akkerman menjadi orang terakhir keluar dari kapal ketika Van der Wijck terbalik dan tenggelam. Saat itu dia menyelamatkan seorang perempuan Belanda dan seorang anak serta menjaha mereka dengan bertahan dari tumpahan minyak kapal.

Baca juga: Tragedi Kapal Ferry Nankai Maru, Tenggelam Tanpa Sebab Pasti dan Tewaskan 167 Orang

Peristiwa tenggelamnya kapal ini kemudian diperingati di Lamongan dengan pendirian sebuah tugu di Pelabuhan Brondong. Adapun tulisan yakni, “Tanda Peringatan Kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktu Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Selain itu peristiwa ini pun diangkat menjadi dalam film layar lebar yang diangkat dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan Buya Hamka terbitan tahun 1938.