Terbang Nonstop Lebih dari 16 Jam, Ini Yang Mungkin Terjadi Pada Anda

Atasi dehidrasi dengan minum air (Yukepo.com)

Perjalanan panjang nonstop selama lebih kurang 16 jam menjadi satu kekhawatiran yang cukup besar bagi para penumpang pesawat. Salah satunya adalah jika terjadi DVT (Deep Vein Thrombosis) atau Trombosis Vena Dalam, yakni penggumpalan dara di dalam pembuluh darah, yang umumnya menyerang daerah persendian di sekitar kaki.

Baca juga: Pentingnya Relaksasi di Perjalanan Jauh

Seperti baru-baru ini Qantas mengumumkan rencana rute penerbangan nonstop jarak jauh dari Perth menuju London di tahun 2018 mendatang, yang akan menjadi penerbangan nonstop terpanjang di dunia. Nantinya jika sudah terealisasi, penerbangan ini memakan waktu hingga 17 jam lamanya. Namun, dengan perjalanan nonstop ini, apa yang akan terjadi di tubuh Anda selain gejala DVT? KabarPenumpang.com merangkum dari independent.co.uk, bahwa banyak hal yang akan terjadi pada tubuh Anda dalam penerbangan jarak jauh, seperti:

1. Penerbangan mungkin membuat gigi sakit
Kebanyakan penumpang sudah terbiasa dengan sensasi yang muncul di telinga saat penerbangan akan lepas landas ataupun mendarat. Untuk mengurangi dengungan di telinga, Anda bisa menelan ludah atau menekan hidung untuk mengurangi tekanan dalam telinga. Dengan mekanisme yang sama, gelembung gas juga bisa menyebabkan gigi tidak nyaman selama penerbangan apalagi yang memiliki tambalan pada gigi.

2. Udara kabin tidak terlalu membawa pengaruh
Tekanan kabin tidak akan memperngaruhi pernapasan siapapun, kecuali penderita penyakit paru kronis dan sebagian besar efek perubahan tekanan cenderung lebih akan terasa pada penderita.

3. Jet lag
Efek paling serius dalam penerbangan jarak jauh adalah jet lag. Jet lag akan mempengaruhi seluruh fungsi fisik Anda termasuk tingkat kortisol. “Kortisol rendah atau tinggi pada waktu-waktu tertentu dalam sehari dan jika Anda membutuhkannya tinggi ketika rendah, tanggapan fisik dan mental Anda tidak akan memadai,” saran Dr Mike Townend, mantan ketua British Global And Travel Health Asosiasi dan dosen senior di University of Glasgow. Menurutnya, ini akan memakan waktu hingga 48 jam untuk mereka pulih dari penerbangan dan sebaikknya menunda untuk melakukan pertemua bisnis.

4. Latihan pergelangan kaki
Untuk mencegah DVT, penumpang yang duduk lama di pesawat bisa melakukan peregangan pada bagian tubuh terutama bagian kaki. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap orang dalam perjalaanan selama empat jam atau lebih harus bangun dari duduknya dan berjalan. Ini untuk melatih kaki dan pergelangan agar darah tidak menyumbat di pembuluh darah akibat penggumpalan yang terjadi.

5. Suara keras merusak pendengaran
Para pelancong dalam perjalanan jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton film atau mendengarkan musik. Namun mengingat kebisingan dari sesama penumpang dan mesin pesawat membuat Anda menaikkan volume suara musik atau film. Padahal ini bisa membuat pendengaran Anda rusak.

6. Kulit kering hingga dehidrasi
Setiap penumpang yang menaiki pesawat merasakan kulit kering dan juga tidak terhidrasi dengan baik. Hal ini dikarenakan, kelembaban di dalam kabin berada pada tingkat rendah. Para penumpang diharuskan lebih sering minum air putih untuk menghindari dehidrasi dan menggunakan pelembab untuk mengatasi kulit kering. Jauhkan teh, kopi hingga alkohol, minuman ini akan membuat Anda akan lebih merasakan dehidrasi.

Baca juga: Selain Banyak Minum, Dehidrasi di Pesawat Bisa Dicegah dengan Cara Ini