Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

0
Skai, taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen. Sumber: newatlas.com

Taksi udara all-electric vertical takeoff and landing (eVTOL) besutan Skai awalnya sempat menggemparkan jagat persaingan eVTOL di dunia. Betapa tidak, saat berbagai start-up taksi udara mayoritas fokus mengembangkan produk bertenaga listrik, Skai justru melawan arus dengan melaunching desain taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen.

Baca juga: Skai – Moda eVTOL Multifungsi yang Punya Cost per Ride Setara Uber

Penggunaan hidrogen pada moda transportasi memang dinilai brilian. Selain membuat taksi udara menjadi bebas emisi atau ramah lingkungan, energi yang dihasilkan juga besar dengan tingkat kepadatan jauh lebih baik dibanding baterai lithium. Dengan begitu, taksi udara Skai disebut akan sanggup melayani penerbangan jarak jauh serta pengisian bahan bakar singkat.

Namun, mewujudkan taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen dalam prosesnya tak semudah yang dibayangkan. Bahkan, bila perusahaan kala itu sesumbar produk mereka dapat segera terbang, sepekan setelah launching dan mendapat sertifikasi setahun setelahnya (tahun 2020), kini, mereka tengah kelimpungan.

Dikutip dari newatlas.com, CEO Skai, Steve Hanvey, ketika ditanya soal teknologi tangki bahan bakar, ia pun tak mampu menjawabnya dengan tegas dan berdalih bahwa timnya sangat ahli di bidang tersebut. Itu baru teknologi tangki bahan bakar, belum komponen pendukung lainnya.

Atas berbagai ketidakjelasan itu, tak heran bila taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen besutan Skai, saat ini progresnya baru sampai tahap uji terbang awal. Jangankan membawa penumpang dan terbang sejauh empat jam, untuk penerbangan tanpa awak saja masih belum bisa bertahan lama.

Melihat realita yang ada, Harvey pun dengan rendah hati mengaku bahwa target pengoperasian untuk penerbangan tak berawak, dengan kapasitas empat penumpang dan satu pilot, serta menggunakan enam rotor atas, diundur jadi awal tahun 2021; tak menutup kemungkinan bakal lebih daripada itu. Namun, taksi udara Skai eVTOL bertenaga hidrogen tetap masih memiliki keunggulan dengan program hidorgennya plus teknologi rotor yang diklaim lebih tenang dibanding helikopter.

Atas permasalahan yang dihadapi bersama anak perusahaan Alaka’i Technologies (Skai), ia pun teringat dengan nasihat dari mentornya, Igor Sikorsky, seorang perintis pembuatan helikopter dan pesawat bersayap keturunan Rusia-Amerika.

“Igor Sikorsky pernah berkata kepada saya, ketika Anda melakukan proyek teknologi semacam ini, jangan mencoba untuk memprediksi masa depan , karena cenderung berubah,” ujar Harvey.

Oleh karenanya, saat ini, ia dan tim hanya fokus untuk terus-menerus mengembangkan target demi target mereka, menerbangkan taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen secepat mungkin. Tentu, untuk sampai pada level itu, mereka harus melewati serangkaian proses panjang, termasuk sertifikasi oleh regulator penerbangan sipil AS, FAA.

Baca juga: Archer Kembangkan Taksi Udara eVTOL dengan Baling-baling ‘Tersembunyi’

Terkait sertifikasi oleh FAA, ia mengaku tak khawatir. Sebab, baik dirinya maupun tim Skai yang saat ini jumlahnya mencapai 70an orang, naik dari semula 40 orang, seluruhnya memiliki pengalaman dalam proses sertifikasi, baik sebagai administrator maupun kubu pemohon sertifikasi.

“Saya sudah mensertifikasi pesawat sejak 1980. Program militer, helikopter, sayap tetap, kecil dan besar, seluruh tim kami membawa pengalaman dari bisnis kedirgantaraan di sekitar apa yang diperlukan untuk mendapatkan sertifikasi pesawat yang berhasil, dan apa yang diperlukan untuk mendukungnya,” tutupnya.

Leave a Reply