Thursday, May 30, 2024
HomeBandaraTerlepas dari Kasus Siskaeee, Ini Bahaya ‘Telanjang’ di Bandara untuk Kesehatan

Terlepas dari Kasus Siskaeee, Ini Bahaya ‘Telanjang’ di Bandara untuk Kesehatan

Siskaeee akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pamer payudara di Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA, Kulon Progo, Yogyakarta. Sebelum Siskaeee, di belahan dunia lain, semisal Amerika Serikat (AS), kasus serupa dengan Siskaeee marak terjadi dan juga berurusan dengan petugas, meskipun tidak sampai ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.

Baca juga: Lebih Parah dari Siskaeee, Survei Membuktikan: 1 dari 10 Penumpang Berhubungan Seks di Bandara

Terlepas dari sudut pandang secara hukum, berpakaian setengah telanjang, telanjang, atau berpakaian sangat terbuka di bandara dan di pesawat sadar atau tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Di masa lalu, sekitar tahun 1945, bepergian dengan pesawat kemanapun masih terbatas pada kalangan atas saja dan harga tiketnya pun sangat mahal. Sebagai gambaran, perjalanan dari New York ke London dipatok seharga US$711. Cukup mahal untuk ukuran saat itu.

Di samping itu, bepergian dengan pesawat juga, secara tidak langsung, diharuskan mengenakan setelan yang rapi, seperti mengenakan jas, gaun, dan lain sebgainya, bak mau pergi ke pesta. Sangat prestisius. Ini berlaku di penerbangan manapun di seluruh dunia, bukan hanya di AS dan negara-negara maju saja.

Seiring berjalannya waktu, terlebih ketika Pan Am, maskapai legendaris AS, mempelopori kelas ekonomi modern jarak jauh dan membuat lebih banyak orang bepergian lintas benua dengan mudah dan murah. Gelombang wisawatan terus meningkat seiring banyaknya airlines global yang mengikuti jejak Pan Am.

Di tahun 1978, pemerintah AS menghapus aturan berbusana formal saat naik pesawat terbang. Traveler bisa memakai baju apa saja, dan akhirnya mulailah traveler memakai baju yang lebih terbuka di pesawat. Sejak saat itu, penumpang pesawat pun tak jarang yang memakai pakaian yang nyeleneh bahkan setengah telanjang.

Meski tidak dilarang petugas bandara, namun, maskapai penerbangan mempunyai standar busana tersendiri untuk penumpang.

Sekalipun alasannya karena norma kesopanan, namun, menurut beberapa pengamat, larangan berpakaian terbuka di bandara dan pesawat terkait dengan alasan kesehatan, seperti terkena penyakit kulit dan sebagainya.

“Pesawat-pesawat itu dibersihkan dua kali setahun. Mengapa Anda ingin kulit Anda menempel di kursi itu?” pakar perjalanan udara, George Hobica seperti dikutip dari nypost.com.

Senada dengan Hobica, profesor mikrobiologi dan patologi di NYU Grossman School of Medicine, Philip Tierno, Ph.D, mengatakan seluruh kuman penyebab pilek, flu, infeksi staph, dan norovirus, termasuk E. Coli penyebab infeksi serius, ditemukan bersembunyi di permukaan kabin pesawat, seperti kursi, meja, dinding, tirai, pintu toilet, dan lain sebagainya.

Celakanya, kursi pesawat tidak dibersihkan dengan sangat baik dan detail antar tiap penerbangan sehingga membuat kuman-kuman tersebut lebih bebar berkembang biak.

Baca juga: Diduga Gila, Wanita Telanjang Keluyuran di Bandara

Andai pun terhindar dari masalah kesehatan karena menggunakan pakaian you can see di pesawat dan di bandara, tetap saja, itu menjijikan, kata Hobica.

“Ribuan orang duduk di pesawat ini setiap minggu dan kemudian Anda duduk di dalamnya,” katanya

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru