Ternyata, Delman Diciptakan Oleh Ahli Irigasi Asal Belanda

Delman Jaman Doeloe. Sumber: istimewa

“Pada hari Minggu ku turut Ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka, ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendarai kuda supaya baik jalannya…”. Tentu Anda semua tidak asing lagi dengan penggalan lagu anak-anak tersebut. Ya, lagu dengan judul Naik Delman karangan Ibu Kasur ini seolah sudah menjadi ikon lagu anak-anak, dari dulu hingga sekarang. Tidak hanya lagu Naik Delman, beberapa lagu anak-anak lainnya juga secara tidak langsung memperkenalkan dunia transportasi kepada mereka sejak usia dini, seperti Naik Kereta Api dan Naik Becak.

Di Indonesia sendiri, Delman sudah masuk ke dalam jajaran moda transportasi tradisional yang eksistensinya kini mulai tergusur oleh perkembangan jaman. Sudah mulai agak sulit untuk menemukan delman di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta. Untuk soal penamaan, banyak orang dari berbagai daerah memiliki sebutan masing-masing untuk moda transportasi ini, seperti Andong, Dokar, Sado, hingga Bendi. Tidak sedikit juga orang yang menganggap kalau Delman dan semua penamaan tersebut merujuk kepada satu titik, yaitu sebuah kereta yang ditarik oleh seekor kuda.

Baca Juga: Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho!

Namun semua persepsi tersebut salah, ternyata Delman dan semua penamaan tersebut tidaklah sama. Delman merupakan sebuah gerobak yang ditarik oleh kuda dan memiliki dua roda (1 sumbu putar), sedangkan Andong memiliki empat roda (2 sumbu putar). Jika ditarik mundur ke belakang, Forbes pernah menyewa delman untuk menempuh perjalanan dari Bogor menuju Bandung pada tahun 1885. Perjalanan yang menghabiskan waktu 13 jam tersebut dibanderol dengan harga 16 gulden, atau jika dikonversikan sesuai dengan kurs sekarang setara dengan Rp 119.000.

Delman Jaman Sekarang. Sumber: istimewa

Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya penggunaan nama Delman ini sendiri merupakan bentuk dedikasi terhadap seorang meneer Belanda yang menjadi otak dibalik pengadaan sarana transportasi ini. Dia adalah Charles Theodore Deeleman, seorang litografer dan insinyur pada masa Hindia Belanda. Litografer sendiri merupakan seorang yang menekuni bidang percetakan di atas bidang licin

Andong dengan Empat Roda. Sumber: istimewa

Pada kala itu, orang Belanda yang menguasai Batavia menyebut kendaraan ini dengan nama dos-à-dos, yang berarti punggung pada punggung, karena posisi si kusir yang memunggungi penumpangnya. Istilah dos-à-dos ini sendiri kemudian disingkat menjadi ‘sado’ oleh penduduk pribumu Batavia. Diketahui, Deeleman yang lahir di Amsterdam, 11 Desember 1823 ini merupakan seorang ahli irigasi yang memiliki sebuah bengkel besi di pesisir Batavia.

Sebagaimana sumber yang dihimpun KabarPenumpang.com dari buku yang berjudul Pictures of the Tropics: a Catalogue karangan J.H. Maronier, Deeleman datang ke Indonesia bersama Neth-Ind waterways service pada tahun 1845 sebagai seorang teknisi. Kedatangannya ke Tanah Air pertama kali bukanlah ke Batavia, melainkan ke Surabaya. Terhitung sejak kedatangannya ke Indonesia, Deeleman menghabiskan waktu tiga tahun menetap di Surabaya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk hengkang ke Batavia pada tahun 1848.

Tercatat, ia tidak hanya menciptakan delman selama berada di Jakarta, tapi Deeleman juga turut merancang bangunan untuk pameran di Batavia, serta melukis beberapa karya lanskap Indonesia dengan menggunakan pensil (sketsa) dan cat air.

Baca Juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Kini nama delman di kota besar seperti Jakarta mulai terancam punah, namun tetap memiliki kejayaannya di daerah sub-urban. Hadirnya teknologi yang semakin berkembang seolah makin menjerumuskan kendaraan yang identik dengan jaman kerajaan ini ke dalam keterpurukan. Jangan sampai anak cucu kita kelak tidak mengetahui bahwa pernah ada sarana transportasi bernama delman di Indonesia.