Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

(Airliners.net)

Pergerakan sirip atau flap pada sayap selalu menarik untuk diperhatikan dari jendela kabin. Tengok saja saat pesawat akan melakukan pendaratan, maka bisa dipastikan flap di sayap akan mengembang, dan memperlihatkan ruang kosong di bagian dalam sayap.

Flap digunakan pada pengaturan tertentu dengan memperhitungkan kondisi beban muatan pesawat, penumpang, runway dan hal lainnya. KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa sumber, flap juga memiliki fungsi untuk mengendalikan laju udara yang mengalir melalui sayap pesawat. Flap sendiri adalah permukaan yang berengsel pada tepi belakang sayap pesawat terbang biasa dan juga sering disebut sirip pesawat. Fungsi flap digunakan untuk menambah daya angkat dan setiap posisi.

Baca juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas

Pada 8 April 1995, ada kejadian yang tak pernah terlupakan, dimana flap pada sayap pesawat Boeing 747-200 Garuda Indonesia jatuh dari ketinggian 500 kaki (setara 152 meter) di sebuah lapangan Newgate Surrey satu menit sebelum mendarat di bandara Gatwick, London di Inggris. Untungnya, pilot mampu mengendalikan pesawat hingga mendarat dengan mulus di Gatwick dan 390 penumpangnya selamat tanpa mengalami cidera.

Insiden yang terjadi pada pesawat registrasi PK-GSE ini bukanlah hal yang pertama pada waktu itu, melainkan kejadian yang ketiga kalinya di dunia yang dialamai pesawat sejenis. Sedangkan pada Garuda Indonesia, ini adalah kali pertamanya terjadi pada penerbangan GA-976. Sayangnya, kejadian ini tidak terinci terkait copotnya flap pada Boeing 747-200 tersebut.

Dugaan saat itu adalah ausnya baut pemegang flap menjadi salah satu kemungkinan komponen terlepas dari kedudukannya di sayap kiri. Dengan kondisi ini, sebenarnya pesawat masih bisa lepas landas dan mendarat, tetapi membutuhkan jarak yang lebih jauh atau panjang untuk meluncur di landasan.

Nah, Anda harus tahu, bahwa untuk membetulkan sebuah flap yang terlepas dari sayap pesawat membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Selain itu, ternyata salah satu ujian untuk mendapat lisensi pilot, seorang calon pilot harus bisa lepas landas dan mendaratkan pesawat tanpa flap.

Baca juga: Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies?

Diketahui, pesawat Boeing 747-200 PK-GSE milik Garuda Indonesia ini buatan tahun 1982 dan menjadi salah satu dari dua jumbo Garuda Indonesia yang di jual pada pihak luar dan kembali disewa oleh Garuda Indonesia. Tahun 1994, sebelun Boeing 747-200 tersebut di jual, Garuda Indonesia memiliki enam Boeing 747-200 dan dua jumbo teranyar yakni 747-400.