Ternyata, Tidak Semua Anak Autis Benci Naik Kereta

Ilustrasi Anak Autis. Sumber: Youtube

Masih ingat dengan cerita tentang anak autis yang tidak senang berkendara menggunakan kereta? Ya, pada artikel sebelumnya, disebutkan bahwa sembilan dari sepuluh anak autis mengalami perubahan tak terduga dalam diri mereka ketika naik kereta, dimana perubahan tersebut berdampak pada peningkatan rasa cemas dalam diri mereka. Nah, bagaimana dengan satu lainnya? Ternyata mereka nampak menikmati perjalanan bersama si ular besi ini.

Baca Juga: Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (19/6/2018), ternyata bagi sebagian anak penderita autis, perjalanan menggunakan kereta api memberikan hasrat yang besar bagi mereka. Berbanding terbalik dengan hasil survei yang dilakukan oleh Fiona McGrevey dari The National Autistic Society Scotland yang mengemukakan bahwa sekitar 52 persen penderita autis mengatakan takut untuk menggunakan jasa transportasi umum seperti bus atau kereta api.

Mungkin mereka takut akan getaran tidak stabil yang ditimbulkan, hingga ruangan sempit yang membatasi pemandangan mereka (claustrophobia/fobia terhadap ruang sempit). Namun nyatanya tidak, Tony Charman, seorang profesor psikologi anak di King’s College London yang juga spesialis dalam ruang lingkup autisme mengatakan bahwa dirinya melontarkan beberapa pertanyaan pada anak autis seputar kereta api. “Apakah kamu suka Thomas (salah satu serial kartun dengan karakter utama sebuah kereta api)? Tentu saja pertanyaan semacam ini terdengar klise, namun terbukti ampuh dalam mendiagnosa pandangan mereka terhadap kereta api,” ungkapnya.

Minat anak-anak yang menjawab suka terhadap karakter Thomas inilah yang akhirnya dikembangkan oleh Profesor Tony untuk mendorong rasa keingintahuan para anak-anak penderita autis ini. “Bagi sebagian anak, moda transportasi seperti kereta ini merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dengan mobil yang biasa mereka temukan di kehidupan sehari-hari,” tandas sang profesor.

Baca Juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?

Pada akhirnya, semua kembali kepada masing-masing individu si penyandang autisme. Mungkin sebagian dari mereka benci dan merasa tersiksa ketika berkendara menggunakan kereta api, tapi tidak sedikit juga yang malah merasa antusias dengan sensasi berkendara bersama si ular besi ini.