Tersebar Isu Soal Kenyamanan Penumpang, Terlalu Dinikah Airbus Luncurkan A321XLR?

0
Sumber: Simple Flying

Kendati telah memperkenalkan varian A321XLR pada Paris AirShow 2019, namun bukan berarti pihak Airbus hanya tinggal menunggu pesanan dari maskapai datang. Dikabarkan, kini pihak produsen pesawat asal Eropa tersebut tengah dibuat bingung dengan isu kenyamanan penumpang . Ya, Airbus A321XLR memang pesawat narrow-body yang sengaja dikembangkan untuk melayani perjalanan jarak jauh, maka rasanya agak tidak mungkin apabila Airbus tidak memperdulikan tingkat kenyamanan penumpang melalui bangku yang ada di dalam kabin.

Baca Juga: Di Paris AirShow 2019 Airbus Perkenalkan A321XLR, Apa Saja Keunggulannya?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman Reuters (17/6/2019), sebelumnya baik Airbus maupun saingan terbesarnya, Boeing telah meluncurkan pesawat untuk melakoni penerbangan jarak jauh berbahan serat karbon terbaru seperti 787 Dreamliner atau A350, namun kedua varian ini menawarkan ruang kabin yang besar dan mampu membantu penumpang agar tidak terkena jetlag yaitu dengan cara mengatur tekanan kabin sehingga mirp dengan tekanan ketika berada di darat.

Selain varian 787 Dreamliner dan A350, baik Boeing dan Airbus juga telah mengembangkan pesawat narrow-body yang mampu mengarungi penerbangan jarak jauh – karena varian seperti inilah yang dinilai paling efisien oleh para operator penerbangan, dan menurut mereka, mengudara dengan menggunakan pesawat narrow-body akan mendukung regulasi tentang pemberlakuakn tarif murah.

Sudah barang tentu, variabel kedua yang dipikirkan oleh produsen pesawat setelah keselamatan adalah kenyamanan penumpang. Apabila mengudara dengan menggunakan pesawat twin-aisles (lorong ganda) atau kondang disebut widebody, mungkin masalah kenyamanan bukanlah menjadi sebuah perkara yang berati. Tapi apakah bisa pihak produsen pesawat ‘memindahkan’ tingkat kenyamanan yang sama kepada varian single-aisle? Di sinilah letak permasalahan yang sesungguhnya.

Tidak usah membahasnya terlalu jauh, dimulai dari hal paling sederhana saja – tekanan di dalam kabin. Di dunia penerbangan, dikenal dengan yang namanya equivalent effective cabin altitude atau yang biasa disingkat cabin altitude saja, dimana ini merupakan pengaturan tekanan udara yang ada di dalam kabin ketika pesawat mengudara.

Tidak bisa secara serta merta sebuah pesawat memberikan tekanan udara di dalam kabin yang setara dengan tekanan udara ketika berada di darat. Sebagai contoh, pesawat 787 Dreamliner milik Boeing dan A350 milik Airbus memiliki tekanan udara di dalam kabin yang setara dengan ketinggian 6.000 kaki. Atau varian Airbus lainnya, A320 yang memiliki tekanan kabin setara dengan ketinggian 8.000 kaki.

“Tekanan kabin dari Airbus A321XLR bisa menjadi masalah,” ujar salah satu eksekutif dari pihak maskapai yang ingin namanya tetap anonim.

Baca Juga: Paris Air Show 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing

Pernyataan ini dilontarkan pasca maskapai terkait pernah menggunakan varian A320neo pada tahun 2015 silam, dan menyatakan bahwa varian tersebut memiliki kelemahan terkait tekanan udara di dalam kabin ketika mengudara di ketinggian.

Lalu, bukankah sudah semestinya Airbus memikirkan terlebih dahulu setiap detail pada keseluruhan pesawat sebelum memperkenalkannya ke publik? Atau ini merupakan salah satu ‘ancaman’ dari pihak Airbus terhadap Boeing yang tengah terseok-seok pasca grounding massal terhadap varian 737 MAX? Atau Airbus terkesan terlalu terburu-buru dalam meluncurkan varian ini, mengingat rival setaranya, 737 MAX tengah terpuruk?

Leave a Reply