Throwback, Boeing 707 Pan Am 812 Jatuh di Bali, Tim SAR Butuh 3 Hari Menjangkau Lokasi

0
Boeing 707 Pan Am (Foto: Istimewa)

Sejarah industri penerbangan global mungkin mengenal Pan American (Pan Am), maskapai legendaris asal Amerika Serikat (AS) sebagai pelopor kelas ekonomi modern di penerbangan jarak jauh. Namun di Bali, maskapai yang sudah stop operasi pada 4 Desember 1991 tersebut lebih dikenal akibat kecelakaan naas yang menewaskan 107 penumpang dan awak pesawatnya.

Baca juga: Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh

William Pierce, yang kala itu menjabat sebagai General Services Officer (GSO) AS penepatan di Surabaya, Indonesia, ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut. Maklum, dari 107 korban, diketahui 26 di antaranya adalah warga AS. Sisanya beragam, mulai dari Jepang, Australia, Perancis, Kanada, Jerman, Cina, India, Filipina, Denmark, dan Swedia.

William, seperti dikutip dari adst.org, bercerita bagaimana peran masyarakat Bali dalam mengevakuasi korban kecelakaan Boeing 707 Pan Am dengan nomor penerbangan 812 tersebut. Menurut kesaksiannya, militer AS dan FBI, sempat kesulitan untuk mencapai lokasi kejadian yang berada tujuh jam perjalanan dari pusat kota di Depansar. Alhasil, mereka (militer AS dan FBI) baru bisa mencapai TKP setelah 2-3 hari perjalanan.

Anehnya, dalam kondisi masih berupa hutan lebat dan dengan peralatan seadanya serta jalur yang sama, William menyaksikan sendiri masyarakat Bali berjibaku, menembus hutan hingga sampai lokasi kecelakaan Pan Am dalam tempo sekitar 12 jam.

Ia, bersama militer AS dan FBI kemudian bergabung dengan relawan lokal untuk mencapai lokasi. Meskipun rekor waktu tempuh oleh masyarakat lokal menuju TKP kecelakaan, tak mampu disamai, paling tidak tim berhasil sampai kurang dari satu hari perjalanan. Di situlah, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat nyaris tak ada korban kecelakaan Pan Am di Bali dalam keadaan utuh.

Peristiwa kecelakaan Boeing 707 Pan Am 812 tentu saja menjadi catatan kelam AS. Mirisnya, catatan kelam itu hampir berjalan beriringan dengan sejarah manis maskapai. Menurut William Pierce, saat itu, Pan Am adalah satu-satunya maskapai non Indonesia yang diizinkan mendarat di luar Jakarta dengan frekuensi dua flight dalam seminggu. Tentu hal itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri sebelum kecelakaan naas merenggutnya.

Misteri jatuhnya pesawat Pan Am dengan nomor penerbangan 812 bermula pada 22 April 1974. Kala itu, pesawat trijet Boeing 707 hendak mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Sekitar 22.05 WITA, petugas ATC on duty, I Wayan Nuastha menerima kontak pertama dari Kapten Zinke, pilot pesawat Boeing 707-321B N446PA berjuluk Clipper Climax.

Tak lama berselang, petugas meminta Clipper menghubungi Pusat Pengawas Wilayah yang berfrekuensi 128,3, sebab tanggung jawab ATC hanya terbatas pada ketinggian 1.000 kaki. Zinke pun menyetujuinya dan berhasil melakukan kontak dengan Mulyadi, petugas yang berdinas.

Saat Capt. Donald Zinke sudah diizinkan mendatat pada pukul 22.27 WITA, pesawat Clipper Climax yang sudah menempuh 4 jam 20 menit perjalanan dari Hong Kong menuju Sydney itu diturunkan pada level 10 ribu kaki sambil meminta clearance di bandara. Percakapan itu tetap didengar Nuastha yang menyiapkan landasan dengan menyalakan semua lampu di sekitarnya. Namun lampu isyarat (rotating beacon) tidak menyala karena rusak.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Pesawat kemudian terus dipandu oleh petugas ATC hingga di ketinggian 2.500 kaki. Anehnya, dari hasil investigasi, pilot mengaku belum melihat bandara. Padahal, dengan teknologi radar tercanggih di zamannya, seharusnya piot sudah melihat berikut runway. Tak lama berselang ATC dan pilot putus kontak. Pagi hari 23 April 1974 sebuah Cessna Angkatan Udara Republik Indonesia melaporkan melihat puing pesawat naas itu masih berasap di Gunung Tinga-tinga di Desa Patas, Gerokgak, Buleleng, Bali.

Dari hasil investigasi terhadap letak bangkai pesawat dan pemeriksaan tempat kejadian menunjukkan bahwa pesawat tidak mengalami kegagalan struktur sebelum jatuh. Ditetapkan bahwa keputusan belok kanan ke 263 derajat lebih cepat, yang didasarkan pada sinyal yang diberikan oleh salah satu Radio Direction Finder adalah penyebab pesawat meledak dan terbakar akibat menabrak gunung. Hal ini tentu aneh dan masih terus menjadi misteri mengingat Boeing 707 Pan Am saat itu adalah pesawat dengan radar tercanggih.

Leave a Reply