Tidak Ada Layanan Ride-Hailing, Inikah Masa Kejayaan Taksi di Jepang?

Sumber: Tribunnews.com

Perusahaan penyedia jasa ride-hailing, seperti Grab, Uber atau Didi, mengalami masa-masa sulit di Jepang. Bukan hanya karena peraturan negaranya saja yang cukup ketat, dimana mewajibkan perusahaan untuk melakukan penetapan harga tetap, melainkan juga karena ekistensi dari taksi yang masih punya basis kuat di Negeri Sakura tersebut – seolah mengisyaratkan setiap perusahaan ride-hailing ini untuk tidak beroperasi di Jepang.

Baca Juga: Layanan Ride-Hailing Dilarang, DeNA Luncurkan Taksi Gratis yang Hubungkan 23 Kota Besar di Jepang

Sebagai dampak dari larangan perusahaan ride-hailing untuk beroperasi, maka persaingan antar perusahaan taksi yang sudah menggunakan aplikasi pun semakin memanas. Para ‘pemain’ yang turut berkecimpung di dalamnya pun menganggap ini merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman globalfeet.com, salah satu operator jaringan telepon seluler terbesar di Jepang, NTT DoCoMo telah meluncurkan aplikasi “JapanTaxi” yang bisa dibilang cukup sukses mendepak perusahaan penyedia jasa ride-hailing.

Sebagai perbandingan, di tahun 2017, aplikasi “JapanTaxi” telah diunduh oleh sekitar 5 juta kali di region Jepang saja (dari total populasi 126,8 juta orang), sedangkan Grab diunduh sebanyak 45 juta kali di seluruh dunia.

Lagi, Jepang merupakan salah satu negara yang secara terang-terangan melarang perusahaan ride-hailing untuk beroperasi. Maka tidak heran jika perusahaan taksi yang sudah ‘terkontaminasi’ dengan kemajuan jaman akan saling sikut untuk mencuri ceruk pasar. Beragam promo, inovasi, hingga kebijakan coba dilakukan oleh setiap operator.

Sebut saja perusahaan e-commerce, DeNA yang hadir dengan aplikasi “MOV” akan memberikan segala informasi yang akan membuat pengalaman berkendara penumpang meningkat – identifikasi plat nomor, hingga estimasi waktu kedatangan. Dan satu lagi yang paling menggiurkan, perjalanan gratis.

Nah, mungkin Anda bertanya-tanya, “Bagaimana perusahaan bisa mendapatkan untung jika penumpang bisa naik layanan ini secara gratis?”

Jawabannya sederhana, hanya dengan iklan yang terpasang baik di armada DeNA atau aplikasinya – dan kebijakan ini sudah ditetapkan secara legal oleh hukum.

Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi

Pengemudi taksi dari DeNA akan menerima informasi tentang peristiwa, kondisi lalu lintas, cuaca dan bahkan akan mendapat manfaat dari layanan prediksi yang menyarankan rute optimal yang membantu mereka untuk memaksimalkan jumlah perjalanan. DeNA telah menguji alat pemesanan dan perutean prediktif dengan sukses pada sekitar 5.500 armada taksinya sejak April 2018. Perusahaan taksi yang menggunakan perangkat lunak DeNA telah mengalami peningkatan jumlah pelanggan 5 hingga 6 kali lipat dibandingkan dengan perusahaan taksi lain.

Baru-baru ini, seperti yang sudah diwartakan sebelumnya, DeNA baru saja menjalin kerja sama dengan Nissin Food guna memperluas jaringan, baik dari segi jumlah armada maupun geografis, hingga 4000 unit pada 2019 mendatang.