Tingkatkan Keselamatan Penumpang, Didi Chuxing Uji Coba Audio Recorder di Armadanya

Didi Chuxing. Sumber: Innovation Village

Kasus pembunuhan yang melibatkan oknum pengemudi layanan ride-sharing kembali terjadi di Cina beberapa waktu yang lalu. Usut punya usut, sebelum meregang nyawa, penumpang layanan ride-sharing berjenis kelamin wanita ini sempat diperkosa terlebih dahulu oleh si pengemudi sebelum akhirnya dibunuh secara keji pada Jumat (24/8/2018) silam di Wenzhou, Cina. Berkaca pada kejadian tersebut, Didi Chuxing selaku raksasa layanan ride-sharing di Cina diketahui telah meningkatkan keamanan bagi para penumpangnya.

Baca Juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman!

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman zdnet.com (9/9/2018), peningkatan aspek keamanan yang dilakukan oleh Didi Chuxing ini berupa pemasangan audio recorder di semua layanan ride-sharing berbasis mobil yang mereka operasikan. Dengan begitu, operator pusat bisa memonitor setiap percakapan yang terjadi antara pengemudi dan penumpang. Diharapkan, beragam tindak kriminal yang kerap terjadi juga dapat diminimalisir dengan adanya pemasangan audio recorder ini.

Pemasangan instrumen pencegah tindak kriminal ini masih dalam tahap uji coba sebelum pada akhirnya dievaluasi dan dippertimbangkan apakah layak untuk disematkan di keseluruhan layanan ride-sharing berbasis mobil atau tidak. Masa uji coba ini sendiri mulai diberlakukan sejak tanggal 8 September hingga 15 September mendatang.

Selain pemasangan audio recorder, Didi Chuxing juga memberhentikan operasinya setelah lewat dari pukul 23.00 dan baru beroperasi kembali pada pukul 05.00. Putusan ini dilatarbelakangi alasan yang sama di balik pemasangan audio recorder – yaitu untuk mencegah terjadinya kembali tindak kriminal yang melibatkan jasa ride-sharing.

Peningkatan keselamatan yang dilakukan oleh Didi Chuxing ini dilakukan setelah tuntutan dan kritik dari berbagai kalangan soal keselamatan penumpang yang terkesan dinomorduakan oleh perusahaan yang berdiri sejak September 2015 ini. Dalam kurun waktu kurang dari 100 hari, dua kasus pembunuhan yang melibatkan Didi Chuxing setidaknya sudah cukup untuk mencoreng nama baik dan reputasi perusahaan tersebut.

Baca Juga: Transport of London Inginkan Perusahaan Taksi Berbagi Data Untuk Keselamatan Penumpang

Kendati upaya yang dilakukan oleh Didi Chuxing ini ditujukan untuk meningkatkan keamanan para pengguna layanannya, namun ada juga para pengguna layanan Didi yang mengeluhkan putusan pemberhentian operasi sejak pukul 23.00. Mereka beranggapan bahwa akses untuk pulang ker rumah menjadi lebih susah sejak uji coba pemberhentian operasi tengah malam ini diberlakukan.