Tragedi GA152: Sempat Terjadi ‘Kebingungan’ Identifikasi ATC dengan MA152

0

Jumat, 26 September 1997 dikenang sebagai hari yang kelam dalam sejarah penerbangan komersial di Tanah Air, dimana pesawat Airbus A300-B4 Garuda Indonesia dengan nomer penerbangan GA152 jatuh di Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kecelakaan pada 22 tahun lalu itu menewaskan 234 orang tewas dengan pembagian 222 penumpang (dua orang Inggris, satu Perancis, Enam Malaysia, Empat Jerman, dua Amerika dan dua dari Quebec Kanada serta sisanya orang Indonesia) dan 12 awak kabin.

Baca juga: Hanya Empat Penumpang Selamat, Tragedi JAL 123 Kecelakaan Udara Terburuk di Jepang

Kilas balik pada saat itu, GA152 berangkat pukul 11.30 WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan dijadwalkan tiba pukul 13.58 di Medan. Pesawat ini jatuh sekitar 32 km dari Bandara Polonia dan 45 km dari Kota Medan ketika hendak mendarat di Bandara Polonia sekitar pukul 13.18 WIB.

Jatuhnya pesawat ini di tanah datar dan perbukitan dekat perkampungan yang menyebabkan tidak adanya bagian pesawat utuh atau bisa dikatakan semuanya hancur  dan hangus terbakar. Puing-puing pesawat yang hancur itu bercampur dengan potongan-potongan tubuh manusia yang menjadi korban.

Kecelakaan pesawat ini merupakan yang terburuk dalam sejarah Indonesia dan bagi Garuda Indonesia ini adalah yang pertama kalinya. Ketika kecelakaan terjadi, kala itu Medan tengah diselimuti kabut asap tebal akibat pembakaran hutan.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata sebelum pesawat GA152 jatuh, warga sekitar mengatakan mendengar suara pesawat yang lebih keras dari biasanya hingga memekakan telinga. Kemudian ada suara ledakan yang terdengar berulang-ulang serta suara benturan badan pesawat dengan pohon besar sebelum hancur.

Kehancuran pesawat juga disertai dengan kobaran api yang keluar. Sebelum hancur berkeping-keping, pesawat yang dikemudikan oleh Capt. Rachmo Wiyogo yang juga menjadi korban tewas ternyata sudah diperingatkan oleh petugas menara ATC.

Petugas ATC meminta pilot untuk menurunkan ketinggian dan tidak membelokkan pesawat. Bahkan empat menit sebelum kecelakaan, ada beberapa kebingungan yang terjadi di ATC Medan karena ada dua pesawat yang memiliki nomor penerbangan sama. Penerbangan Merpati MA152 menggunakan nomer yang sama  dengan Garuda Indonesia 152 yang kala itu berdekatan.

Sebuah transkip dari radio komunikasi antar pesawat dan ATC Medan menunjukkan kebingungan dengan pengontrol lalu lintas udara di Medan yang mana ‘152’ mengatakan pendekatan pendaratan normal dan mengatakan itu untuk berbelok ke kiri di dua ribu kaki sekitar 14 mil jauhnya. Petunjuk membawa pesawat ke daerah pegunungan yang membutuhkan ketinggian setidaknya 7500 kaki, pilot mengatakan.

Biasanya, pesawat akan turun ke dua ribu kaki di 6,6 mil. Menurut transkrip, pilot meminta konfirmasi petunjuk dan diberitahu untuk pergi. Setelah kecelakaan, kotak hitam VR (Cockpit Voice Reader) dan FDR (Flight Data Recorder) ditemukan 21 Oktober pada kedalaman yang sama berjarak 10-15 meter dari posisi jatuhnya ekor pesawat.

Baca juga: Pasca Dua Kecelakaan 737 MAX 8, Pihak Boeing Belum ‘Santuni’ Keluarga Korban!

Sedangkan investigasi kecelakaan GA152 selesai dua tahun setelahnya, yakni 2 November 1999. Ketua AAIC (Aircraft Accident Investigation Committee), Prof Oetarjo Diran menuturkan bahwa kecelakaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh banyak faktor. Namun, ia tidak memberikan lebih lanjut terkait penyebab pastinya.

Leave a Reply