Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Sumber: yogyakarta.panduanwisata.id

Apabila Jakarta memiliki TransJakarta, lain ceritanya dengan salah satu sarana transportasi asal kota Gudeg, Yogyakarta. Kota Pelajar ini juga memiliki sebuah sarana transportasi yang hampir mirip dengan Trans Jakarta, yaitu Trans Jogja. Bus ini merupakan salah satu bentuk penerapan Bus Rapid Transit (BRT) yang direncanakan oleh Departemen Perhubungan dan mulai dioperasikan pada bulan Maret 2008 di bawah pengawasan Departemen Perhubungan dan Pemerintah Provinsi DIY.

Faktanya, bus Trans Jogja merupakan evolusi dari bus patas. BusTrans Jogja lahir sehubungan dengan munculnya Studi Kelayakan Angkutan Eksekutif pada tahun Anggaran 2004 di Dinas Perhubungan Provinsi DIY. Setahun berselang, bus Trans Jogja gagal diimplementasikan karena butuh studi mengenai kelayakan yang lebih komprehensif. Karena tidak ingin hal yang sama terulang kembali, maka pada tahun 2005, Dinas Perhubungan Provinsi DIY menyiapkan berbagai kegiatan yang dapat menunjang pengadaan dari bus Trans Jogja ini, seperti Studi Kelayakan Reformasi Sistem Transportasi Angkutan Umum Perkotaan, sosialisasi operasional dari bus Trans Jogja, hingga persiapan pembentukan badan pengelola bus Trans Jogja.

Namun rencana pengadaan bus ini kembali gagal pada tahun 2006 karena gempa tektonik yang mengguncang Yogyakarta dengan kekuatan 6,2 skala richter. Pada tahun 2007, ada perkembangan yang cukup signifikan dari rencana pengadaan bus dengan jargon “Solusi Transportasi Perkotaan” ini, diantaranya brand-image baru yang diberikan oleh Gubernur DIY, terbentuknya wadah yang mengelola bus ini, yaitu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), juga bantuan dari Ditjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Indonesia berupa 10 unit bus yang turut digabungkan dalam pengoperasian bus Trans Jogja.

Setelah sempat tertunda selama kurang lebih 3 tahun, akhirnya pada 18 Februari 2008, bus ini mulai dioperasikan , dengan masa uji coba selama 10 hari. Adapun waktu operasional dari bus ini adalah dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, sedangkan untuk moda yang digunakan adalah bus berukuran sedang dengan 34 tempat duduk. Untuk menunjang pengoperasian dari bus Trans Jogja, terdapat 67 halte khusus untuk menunggu bus ini.

Bus Trans Jogja menghubungkan 6 titik penting di DIY, yaitu Stasiun KA Yogyakarta, Terminal Bus Giwangan (pusat perhubungan jalur bus antar propinsi dan regional), Terminal Condong Catur, Terminal Regional Jombor, Bandara Adi Sucipto, dan terminal Prambanan. Selain itu, Anda juga dapat menjumpai halte-halte Trans Jogja di sekitaran lokasi objek wisata serta sarana publik, seperti sekolah, rumah sakit, kampus serta perpustakaan. Sungguh mirip dengan Trans Jakarta, bukan?

Pada 15 Oktober 2010 silam, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi DIY meluncurkan 2 rute baru yang menjangkau berbagai daerah yang belum dilalui oleh bus Trans Jogja, seperti Puro Pakualaman, UIN Sunan Kalijaga, Balaikota Yogyakarta, dan Stasiun Lempuyangan.

Sumber: yogyakarta.panduanwisata.id
Sumber: yogyakarta.panduanwisata.id

Adapun beberapa hal sederhana yang membedakan antara Bus Trans Jogja dengan Bus TransJakarta terletak pada jalur serta haltenya. Bila Bus TransJakarta memiliki separator yang memisahkan antara bus dengan kendaraan konvensional lainnya, berbeda dengan Bus Trans Jakarta yang tidak memiliki separator, dengan kata lain bus ini berbaur dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum lain. Ukuran halte Bus Trans Jogja juga lebih kecil daripada halte Bus TransJakarta.

Untuk tarif dari Bus Trans Jogja juga bisa dibilang cukup murah, yaitu Rp4.000 untuk single trip serta ada sistem langganan yang tentu menawarkan harga yang lebih terjangkau daripada tiket single trip. Anda cukup melakukan pembelian perdana seharga Rp25.000 dan minimal isi ulang Rp15.000, Anda akan dikenakan tarif Rp2.700 per trip untuk umum, dan Rp2.000 per trip untuk pelajar dari SD hingga SMA.

Baru-baru ini, para awak angkutan perkotaan merasa keberatan dengan penambahan rute baru dari bus Trans Jogja ini yang lebih banyak mengarah ke sebelah barat dan tengah kota Yogyakarta. Salah seorang kru angkutan perkotaan bahkan merasa amat keberatan dengan adanya penambahan 3 jalur Trans Jogja. “Jangankan 3, tambah 1 jalur saja dampaknya berat bagi kami. Saya tidak habis pikir, kasihan dengan teman-teman kru perkotaan, mereka butuh menghidupi anak istri,” tutur Benny, Koordinator Paguyuban Kru Bus Prekotaan se-DIY, dikutip dari laman Solopos.com, Minggu (2/4/2017).

Menanggapi keluhan tersebut, Kabid Angkutan Darat Dishub DIY, Agus Harry Triono mengatakan keberadaan Trans Jogja sebenarnya bukan untuk “mematikan” bus perkotaan, tapi keduanya harus saling melengkapi guna melayani kebutuhan para penumpangnya. “Kami berharap bisa saling melengkapi antara Bus Trans Jogja ini dengan angkutan perkotaan,” tutur Agus seperti yang dilansir dari laman Solopos.com, Minggu (2/4/2017)