Travelator, Wahana Transportasi Massal Yang Bebas Emisi

Travelator atau eskalator datar sudah jamak melengkapi bandara internasional, dengan bentang jarak antar gate yang berjauhan hadirnya travelator menjadi pilihan yang tepat bagi para calon penumpang untuk menggapai lintasana gate yang kadang jarak mencapai lebih dari satu kilometer dari titik check in atau pemeriksaan imigrasi.

Meski saat ini debut travelator sebatas digunakan pada area bandara dan beberapa stasiun bawah tanah ternama, ada suatu pemikiran untuk memanfaatkan teknologi travelator sebagai wahana transportasi untuk menggeser massa penumpang dalam jumlah besar dengan menenkankan pada pengurangan emisi karbon. Seperti dilansir dari newsatlas.com (24/11/2016), beberapa negara maju tengah mencanangkan guna memaksimalkan konsep Smart City dengan meminimalisir mobil pribadi dan mengurangi emisi karbon.

Walau beragam studi dan terobosan telah dicetuskan para peneliti, namun sampai saat ini masih belum jelas betul moda transportasi apa yang akan menggantikan mobil pribadi nantinya. Sebagai bentuk pencarian solusi, peneliti dari Ecole Polytechnique Federale de Lausanne (EPFL) di Swiss, memiliki gagasan kota bebas mobil dan menggunakan teknologi travelator.

Menurut EPFL, trotoar bergerak Jetson (escalator lurus) bukan hanya bisa untuk menggantikan mobil. Ini dikarenakan setiap travelator ini bisa menampung dan membawa 7 ribu penumpang per jam lebih banyak dibandingkan bus. Walaupun nantinya pengguna akan berpindah dari travelator yang satu ke travelator lainnya untuk menuju lokasi yang akan mereka singgahi.

Jauh sebelum masa ini, model travelator sudah menjadi acuan futuristik sejak tahun 1893 dan pertama kali dipasang di pameran Colombus Chaniago dan pada tahun 1900 untuk kedua kalinya di Paris Exposition Universelle. Sejak pameran tersebut, sudah ada bayangan yang telah diusulkan oleh H G Wells, Robert Heinlein dan Isaac Asimov, dan  para visioner perkotaan untuk membuat mobil konvensional dan transportasi umum. Namun, pada masa itu belum ada inisiatif untuk memproduksi travelator.
Smithsonian-MagazineTravelator hingga saat ini hanya berada di bandara, stasiun, dan pusat belanja raksasa, tetapi belum ada penerapan travelator di luar ruangan (outdoor). Menurut para peneliti EPFL, berdasarkan konsep kota Jenewa Modern, saat ini tidak ada mobil pribadi melainkan semua transportasi yang berada di jalanan adalah bus, kereta api metro, trem, taksi, sepeda atau mobil angkutan lain telah terintegrasi. Para peneliti ini juga mengasumsikan saaat melihat beberapa teknologi saat ini, penggunaan travelator akan dibuat lebih cepat dari biasanya. Menurut mereka nantinya penumpang yang naik ke travelator akan melaju bersamaan dalam jarak 15km per jam. Hasil ini didapat dari rata-rata kecepatan pengendara yang berjalan melalui kota pada jam-jam sibuk.

Masih menurut para peneliti, adopsi travelator ini akan ditinggikan untuk memudahkan pengguna saat melakukan perjalanan nonstop pada Expressway. Menurut EPFL, penggunaan travelator ini akan mengambil ruang lebih banyak daripada untuk kendaraan pribadi. Dengan ini, memungkinkan adanya ruang untuk travelator bergerak dua arah seperti halnya transportasi lain.

Kapasitas 7 ribu penumpang per jam untuk setiap jalur, bila dibandingkan dengan 750 penumpang untuk 1.800 kendaraan di jalan, ditambah travelator ini juga akan lebih hemat energi dari pada bus, sekalipun bus listrik. Sayangnya, pembangunan jalan untuk travelator ini akan mengeruk anggaran yang sangat mahal, terlebih pada soal pembebasan lahan dan penerapan infrastruktur penunjang.