Tua-tua Keladi, Setelah 63 Tahun DC-8 Justru Diandalkan NASA Jadi Lab Terbang Canggih

0
NASA memanfaatkan pesawat tua DC-8 yang sudah 63 tahun diproduksi sebagai laboratorium terbang canggih. Foto: Pinterest

DC-8 mungkin tak se-fenomenal Boeing 747 ataupun Airbus A380. Namun, di masanya, pesawat buatan McDonnell Douglas Aircraft itu disebut sebagai pesawat paling fenomenal di dunia. Sayangnya, setelah 14 tahun diproduksi atau tepatnya pada tahun 1972, pesawat quad jet ini akhirnya diputuskan pabrikan stop produksi.

Baca juga: Intip Teleskop Terbang Terbesar di Dunia Boeing 747 NASA

Akan tetapi, siapa sangka, setelah 63 tahun produksi atau 49 tahun stop produksi, pesawat ini masih terus digunakan oleh beberapa operator di dunia, salah satunya NASA. Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut diketahui bukan menggunakan pesawat tersebut untuk test crash, mengingat usianya sudah sangat tua, melainkan mengandalkannya untuk laboratorium terbang canggih.

Berbasis di Gedung NASA 703 Armstrong di Palmdale, California, Amerika Serikat, laboratorium terbang canggih ini mengumpulkan data untuk eksperimen dalam mendukung proyek-proyek ilmiah yang melayani komunitas ilmiah dunia, seperti lembaga federal, negara bagian, akademisi dan komunitas ilmiah dari seluruh penjuru dunia.

Secara empiris, ada tiga alasan mengapa NASA masih menerbangkan pesawat pesaing Boeing 707 ini, tak lain dan tak bukan untuk menjalankan tiga misi utama, yaitu pengembangan sensor, verifikasi sensor satelit, dan studi penelitian dasar tentang permukaan dan atmosfer Bumi.

Data yang dikumpulkan oleh pesawat, yang dioperasikan bersama oleh NCAR-NASA Deep Convective Clouds and Chemistry stud Program Sains Lintas Udara NASA dan Pusat Pendidikan dan Penelitian Suborbital Nasional (NSERC) di University of North Dakota ini, dengan penginderaan jauh telah digunakan untuk studi ilmiah lintas disiplin ilmu, seperti arkeologi, ekologi, geografi, hidrologi, meteorologi, oseanografi, vulkanologi, kimia atmosfer, ilmu kebumian, dan biologi.

DC-8 diketahui memiliki kemampuan dasar yang cukup mumpuni untuk dijadikan pesawat penelitian atau laboratorium terbang canggih. Disebutkan, pesawat ini memiliki jangkauan terbang sejauh 5.400 mil laut dan dapat terbang di ketinggian mulai dari 1.000 hingga 42.000 kaki selama 12 jam, meskipun sebagian besar misi sains rata-rata enam hingga 10 jam.

Lebih dari itu, DC-8 juga disebut mampu membawa 30.000 pon instrumen dan peralatan ilmiah, sesuatu yang sangat krusial tentunya karena menyangkut keberhasilan penelitian laboratorium terbang.

Secara umum, pesawat DC-8 yang digunakan NASA untuk laboratorium terbang ini tentu berbeda dengan DC-8 lainnya yang saat ini tinggal tersisa sembilan unit di dunia (termasuk DC-8 NASA).

Baca juga: McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara

Dilansir laman resmi NASA, pesawat telah mendapat banyak modifikasi untuk mendukung penelitian ilmiah, seperti port instrumen zenith dan nadir, port jendela yang dimodifikasi untuk pemasangan instrumen dan probe, antena eksternal dipasang, mount pylon instrumen, jendela optik dari berbagai bahan, tabung pengiriman droponde, probe pengambilan sampel udara dan aerosol, serta modifikasi lainnya.

Laboratorium terbang DC-8 juga menggabungkan serangkaian pesawat operasional dan sistem data yang dapat disesuaikan dengan misi atau instrumen sains tertentu. Ini termasuk radar cuaca, GNSS, altimeter radar, sensor untuk merekam suhu udara total, tekanan sekitar, dan kelembaban relatif, generator kode waktu (NTP dan IRIG-B), video, dan sistem perekaman digital, akuisisi data, distribusi, dan sistem perekaman, Ethernet LAN dengan server, dan tampilan berbasis web.

Leave a Reply