Tutupi Kerugian, Uber Bakal Maksimalkan Moda Transportasi Individual

Sumber: bbc.com

Sebuah inovasi yang cukup unik dilakukan oleh perusahaan ride-sharing asal California, Uber yang baru-baru ini mengungkapkan bahwa moda transportasi individual lebih cocok untuk perjalanan di dalam kota. Pernyataan tersebut dilontarkan langsung oleh CEO Uber, Dara Khosrowshahi dalam suatu kesempatan. Jika ditinjau lebih jauh, ide Dara ini memiliki sejumlah keuntungan yang dapat dirasakan oleh masyarakat dalam jangka panjang – salah satunya adalah yang berkaitan dengan pencemaran udara.

Baca Juga: Uber Hadirkan Fitur Keamanan Untuk Penumpang dan Pengemudi

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (27/8/2018), Dara juga memperkirakan adanya peningkatan pengguna layanan semisal ide ini direalisasikan kelak. “Selama peak hours, sangatlah tidak efisien jika satu mobil mengangkut satu penumpang saja atau bahkan berkendara sendirian,” ucap Dara. “Secara finansial, rencana ini memang tidak berarti banyak bagi kami dalam jangka waktu pendek, tapi lain cerita jika dibandingkan dengan jangka waktu panjang di masa yang akan datang,” tandasnya.

Diketahui, Uber telah menanamkan sahamnya di sejumlah perusahaan sepeda tahun lalu – salah satunnya adalah sepeda listrik Jump yang dapat Anda temui di delapan kota di Negeri Paman Sam, termasuk New York dan Washington. Kabarnya, layanan sepeda listrik Jump milik Uber ini akan segera di rilis di Berlin dalam waktu dekat. Pun dengan Lime, perusahaan skuter listrik yang juga sudah mulai dilirik oleh Uber.

Menurut perhitungan Dara, Uber akan mengalami perubahan pola pendapatan ketika mengoperasikan sepeda ketimbang mobil dengan jarak perjalanan yang sama. Namun, hal tersebut akan diimbangi dengan meningkatnya frekuensi pengguna layanan – terutama ketika peak hours. “Kami bersedia untuk mengais receh untuk pendapatan di masa depan yang tinggi,” paparnya optimis.

Tidak bisa dipungkiri, Uber kalah strategi dalam persaingan dengan sejumlah perusahaan ride-sharing lainnya yang membuat perusahaan yang didirikan oleh Travis Kalanick dan Garrett Camp ini merugi sekitar US$4,5 miliar atau yang setara dengan Rp65,8 triliun. Mau tidak mau, Uber harus berupaya keras untuk membalikkan keadaan dan menyeimbangkan neraca perekonomiannya kembali.

Baca Juga: Diakuisisi Grab, CEO Uber: “Ini Taktik Untuk Tingkatkan Profit”

Memang, pendapatan yang berhasil diraih Uber dalam bisnis ride-sharing (Uber Car) ini tidaklah sedikit, namun pada kenyataannya, laba tersebut lama kelamaan kian tergerus seiring dengan ekspansi pasar ke daerah-daerah baru. Ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kas Uber semakin merosot.

Belum lagi tekanan regulasi di beberapa daerah yang berimbas pada terhambatnya pertumbuhan pasar – sebut saja aturan baru yang berkembang di New York yang memberlakukan pembatasan volume kendaraan untuk mengatasi kemacetan. Akankah Uber masih tetap bisa berjuang?