Industri penerbangan global segera menjadi saksi berakhirnya era salah satu maskapai full service terbaik asal Korea Selatan, Asiana Airlines. Setelah melalui proses negosiasi dan persetujuan regulator yang berlarut-larut selama hampir enam tahun, Korean Air secara resmi mengonfirmasi tanggal integrasi penuh kedua maskapai tersebut pada 17 Desember 2026.
Keputusan ini diambil setelah jajaran direksi kedua maskapai memberikan lampu hijau pada pertengahan Mei 2026. Integrasi ini menandai langkah final dari akuisisi yang pertama kali diumumkan pada tahun 2020 sebagai upaya menyelamatkan Asiana Airlines dari krisis finansial yang diperburuk oleh pandemi Covid-19.
Hilangnya Identitas “Red Arrow” Mulai Desember 2026, nama dan brand Asiana Airlines akan sepenuhnya dihapus. Hal ini mencakup perubahan identitas visual secara menyeluruh, mulai dari pengecatan ulang livery pesawat, penggantian logo di loket check-in bandara, hingga penyatuan sistem manajemen operasional di bawah bendera Korean Air.
Secara teknis, proses ini juga berarti Asiana Airlines akan meninggalkan aliansi Star Alliance untuk bergabung dengan SkyTeam, mengikuti jejak induknya. Para penumpang setia Asiana (Asiana Club) nantinya akan dialihkan ke program loyalitas milik Korean Air, yaitu SKYPASS.
Meski tanggal pernikahan kedua maskapai telah ditetapkan, perjalanan menuju integrasi penuh masih menyisakan beberapa “pekerjaan rumah”. Saat ini, serikat pilot dari kedua maskapai masih terus berdiskusi mengenai penyesuaian senioritas pilot, terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang militer.
Selain itu, sebagai syarat persetujuan dari otoritas persaingan usaha di Eropa (UE) dan Amerika Serikat, Korean Air harus merelakan beberapa rute strategisnya di wilayah tersebut, termasuk menyerahkan divisi bisnis kargo Asiana Airlines kepada Air Incheon. Hal ini dilakukan guna mencegah monopoli pasar pada rute-rute gemuk menuju Eropa dan Amerika Utara.
Dengan penggabungan ini, Korean Air diprediksi akan menjadi maskapai terbesar ke-12 di dunia berdasarkan kapasitas internasional. Fokus utama dari entitas gabungan ini adalah memperkuat posisi Bandara Internasional Incheon sebagai hub transit global yang dominan di Asia Utara.
Selain maskapai utama, anak perusahaan bertarif rendah (LCC) milik kedua grup—yakni Jin Air, Air Busan, dan Air Seoul—juga direncanakan akan melebur menjadi satu entitas besar di bawah brand Jin Air pada awal tahun 2027.
Bagi para penumpang, integrasi ini menjanjikan efisiensi jadwal penerbangan dan konektivitas yang lebih luas melalui jaringan gabungan Korean Air dan mitra joint venture-nya seperti Delta Air Lines. Namun, di sisi lain, hilangnya kompetisi di pasar domestik Korea Selatan tetap menjadi perhatian bagi para pengamat industri terkait potensi kenaikan harga tiket di masa depan.
