Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

1
Ilustrasi layanan di Singapore Airlines. Foto: The Telegraph

Merespon turunnya jumlah penumpang dan wisatawan mancanegara, Singapore Airlines, sejak beberapa hari terakhir, memutuskan mengurangi frekuensi terbang mereka ke sejumlah kota-kota di dunia. Jumlahnya, tak main-main, mencapai lebih dari 3.000 penerbangan, terhitung mulai Februari hingga akhir Mei.

Baca juga: Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman samchui.com, (26/2), dalam seminggu terakhir, Singapore Airlines (SIA) dan anak perusahaannya, Silk Air, tercatat telah memangkas 674 penerbangan di 70 kota di seluruh jaringan globalnya. Perusahaan melihat bahwa saat ini para travelers dari seluruh dunia tengah menahan diri untuk berbagai rencana perjalanan mereka ke kawasan Asia, mengingat angka pertumbuhan kasus baru yang terkonfirmasi di Asia terus meningkat, seperti di Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

Menurut Straits Times, Singapore Airlines sekarang tengah menghadapi kondisi dimana perusahaan mengalami kelebihan tenaga kerja, menyusul turunnya jumlah permintaan dan pembatalan ribuan penerbangan hingga Mei mendatang. Oleh karenanya, tak heran bila perusahaan mengambil langkah lanjutan, berupa pembekuan perekrutan karyawan dan tawaran kepada karyawan untuk cuti secara sukarela atau tanpa dibayar, sekaligus menggunakan hak cuti tahunan mereka.

Brendan Sobie, seorang konsultan penerbangan independen, berpendapat bahwa maskapai penerbangan harus mempertimbangkan skema cuti yang tidak dibayar. Dalam komentarnya di Straits Times, ia menjelaskan bahwa Grup SIA sejauh ini memutuskan untuk tidak menawarkan skema cuti yang tidak dibayar, agar pihaknya memiliki cukup kru di lapangan dalam mengoperasikan penerbangan yang ada sekaligus upaya antisipatif bila sewaktu-waktu di beberapa penerbangannya terdapat kasus virus corona. Keputusan ini dinilai dapat menjadi bumerang jika virus corona tidak benar-benar ada.

Selain itu, ia juga menyoroti, bahkan mendesak, agar SIA transparan terkait kinerja keuangan selama periode kritis akibarvirus corona ini. Belum lagi pembatalan ribuan penerbangan hingga Mei mendatang, tentu saja kinerja keuangan perusahaan akan memburuk, bila tidak segera mencari alternatif profit lainnya.

Akan tetapi, di balik pembatalan ribuan penerbangan ke 70 destinasi di seluruh dunia tersebut, rupanya terdapat hal menarik, yakni terkait pengurangan servis atau layanan kepada pengunjung. Mulai dari penghentian layanan minuman setelah take-off, layanan handuk hangat atau basah, penghapusan bahan bacaan (seatback), hingga penangguhan berbagai layanan ekstra selama di penerbangan.

Baca juga: Terdampak Badai Corona, Inilah Alasan Singapore Airlines Mengurangi Frekuensi Penerbangan ke Sejumlah Negara

Keputusan ini sebetulnya bukan barang baru, mengingat sekitar dua pekan yang lalu, China Airlines, Mandarin Airlines, dan Cathay Pacific Airways juga memutuskan hal serupa. Bahkan lebih parah, meliputi penghentian layanan makanan panas, selimut, bantal, handuk, majalah, dan koran di dalam pesawat.

Namun, bila hal tersebut terjadi pada Singapore Airlines, mungkin menjadi menarik. Sebab, dengan penghentian berbagai layanan tersebut, kini, maskapai dengan layanan full service ditambah segudang prestasi dan reputasi tingginya terebut menjadi hampir tidak ada bedanya dengan maskapai-maskapai berbiaya rendah (dari sisi layanan). Jadi, tak ada salahnya bila sebagian kalangan mengatakan Singapore Airlines turun kelas menjadi LCC atau maskapai berbiaya hemat akibat ‘serangan’ virus corona.

1 COMMENT

  1. rupanya terdapat hal menarik, yakni terkait pengurangan servis atau layanan kepada pengunjung. Mulai dari penghentian layanan minuman setelah take-off, layanan handuk hangat atau basah, penghapusan bahan bacaan (seatback), hingga penangguhan berbagai layanan ekstra selama di penerbangan.

Leave a Reply