Walau Nganggur, Pesawat Tetap ‘Merepotkan’ Petugas, Loh

0
Pesawat-pesawat milik Delta Air Lines saat parkir di Victorville, California. Foto: AirTeamImages via Bloomberg

Virus Cina membuat langit menjadi lebih sepi akibat turunnya frekuensi penerbangan. Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 16 ribu pesawat nganggur di seluruh dunia atau yang terendah sejak 26 tahun.

Baca juga: Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya

Mayoritas dari mereka tersebar di banyak tempat di beberapa bandara di negara masing-masing. Bahkan, beberapa maskapai seperti Singapore Airlines dan British Airways, sampai harus menggrounded armada mereka ke bandara di negara lain, mulai dari Australia hingga Perancis, karena di negara mereka bandara yang ada tak lagi menampung saking banyaknya pesawat yang nganggur.

Akan tetapi, ketika pesawat di-grounded, bukan berarti tugas mereka (maskapai) selesai sambil berharap industri penerbangan global kembali pulih. Dalam kondisi menganggur sekalipun, pesawat tetap harus mendapat perawatan agar pesawat siap beroperasi ketika digunakan, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak dalam sebuah pesawat, dan bagian-bagian lainnya.

Tak cukup sampai di situ, untuk mencegah menumpuknya debu serta burung yang bersarang, mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya. Interior pesawat juga tak luput dari perhatian. Selama pesawat digrounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Kemudian, yang tak kalah pentingnya, bahan bakar pesawat juga harus dalam keadaan terisi penuh. Hal itu untuk mencegah terjadinya karat di bagian dalam tanki bahan bakar. Meski demikian, ketika pesawat hendak kembali dioperasikan, bahan bakar tersebut tetap harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Sebab, layaknya bahan makanan, bahan bakar juga bisa ‘basi’ bila terlalu lama disimpan di tangki.

Terpaan angin yang kencang juga menjadi perhatian petugas maintenance. Dalam kondisi normal, mungkin kencangnya terpaan angin terhadap pesawat yang tengah parkir tak terlalu membuat mereka khawatir. Namun tidak dalam kondisi seperti sekarang, dimana pesawat berjajar rapi dalam jarak yang cukup tipis untuk memaksimalkan space. Oleh karenanya, maskapai pun mau tak mau sampai harus menambah kelengkapan wheel chocks semata agar pesawat statis dan tak bergeser sedikitpun.

Dikutip dari bloomberg.com, berbagai pengecekan tersebut dilakukan dalam rentang waktu seminggu atau dua minggu sekali. Namun, akibat banyaknya pesawat yang digrounded, tim maintenance atau teknik disebut bekerja hampir sepanjang hari, dengan hanya sedikit jam istirahat.

Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen.

Selain itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) belum lama ini juga telah merilis analisis terbaru. Analisis tersebut menunjukkan, lesunya penerbangan akibat pandemi corona akan menyebabkan maskapai kehilangan sekitar $314 miliar pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019. Kondisi tersebut pun diklaim akan mengancam 25 juta pekerja aviasi di berbagai penjuru dunia.

Leave a Reply