William Boeing, Eks Pengusaha Kayu Yang Bawa Pengaruh Besar di Dunia Aviasi

Sumber: flyawaysimulation.com

Siapa yang tidak tahu Boeing? Salah satu perusahaan multinasional ini tidak hanya menggeluti bidang produksi pesawat terbang, tapi juga merancang dan menjual mahakaryanya kepada penyedia jasa layanan penerbangan. Diketahui, Boeing juga memproduksi pesawat rotor, roket, hingga satelit. Tidak heran jika perusahaan yang didirikan pada 15 Juli 1916 ini disebut-sebut sebagai salah satu produsen pesawat terbesar di dunia.

Baca Juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Ternyata, penamaan Boeing sendiri diambil dari pendiri perusahaan yang bermarkas di Chicago, Illinois ini, yaitu William Boeing. Lahir di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, pada 1 Oktober 1881, pria dengan nama lengkap William Edward Boeing ini berasal dari kalangan keluarga yang berada. Diusianya yang menginjak delapan tahun, Boeing terpaksa menerima kenyataan pahit ketika sang Ayah, Wilhelm Böing meninggal karena penyakit influenza, dan Ibunya, Marie M. menikah lagi setelah ditinggal mendiang suaminya.

William Edward Boeing. Sumber: washington.edu

Boeing sempat mengenyam bangku pendidikan di Vevey, Swiss sebelum akhirnya ia kembali ke Amerika. Yale University lalu menjadi pelabuhan Boeing selanjutnya untuk melanjutkan masa pendidikannya. Namun pada tahun 1903, Boeing memutuskan untuk mengakhiri masa kuliahnya dan mulai memasuki dunia bisnis kayu. Ternyata, Dewi Fortuna berada di pihak Boeing, terbukti dengan suksesnya usaha kayu yang ia jalankan, dan menjadikannya seorang kaya raya, terlebih ketika ia membangun perusahaan perkayuannya sendiri di Grays Harbour.

Boeing Model 1. Sumber: flyingmachines.ru

Meskipun sudah mendulang kekayaan, itu sama sekali tidak membuatnya cepat puas dan pongah. Oleh karena itu, saat dirinya menjadi direktur utama dari Greenwood Logging Company, Boeing yang selama ini sering sekali bereksperimen dengan desain pesawat memutuskan untuk pindah ke Seattle. Kepindahannya ke Seattle ternyata membuka asa baru bagi Boeing. Di sinilah minatnya akan pesawat terbang mulai tumbuh, terutama dari segi bisnis. Untuk mewujudkan mimpinya di dunia aviasi, Boeing memutuskan untuk mengambil kelas di Glenn L. Martin Flying School di Los Angeles dan membeli salah satu pesawat milik Glenn.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman wikipedia.com, salah seorang pilot dari Glenn L. Martin Flying School, James Floyd Smith diketahui membantu Boeing untuk merakit hydroaeroplane dan mengajarkannya cara untuk terbang. Bermodalkan sebuah hanggar sewaan di tepi Danau Union, keduanya saling bahu membahu untuk merakit pesawat tersebut. Setelah hydroaeroplane itu rampung, uji coba pun dilakukan oleh Herb Munter, seorang pilot uji coba. Namun sayangnya, kendala teknis dialami saat uji coba dan memaksa pesawat tersebut kembali masuk ke dalam hanggar. Tidak berhenti sampai di situ, Boeing  juga dipaksa menunggu berbulan-bulan untuk mendatangkan suku cadang penggantinya.

William Boeing dan Eddie Hubbard. Sumber: disciplesofflight.com

Ia lalu berkonsultasi dengan George Conrad Westervelt, rekannya yang juga berprofesi sebagai salah satu teknisi ahli dari Angkatan Laut A. S. dan mengatakan bahwa keduanya akan bersinergi untuk kembali membangun pesawat terbang yang lebih baik dengan masa pengerjaan yang lebih singkat. Setelah memperhitungkan berbagai kemungkinan, pada tahun 1916 mereka mendirikan industri pesawat terbang yang saat itu diberi nama Pacific Aero Products.

Produk pertama yang mereka hasilkan adalah seaplane yang diberi nama Boeing Model 1 (B & W Seaplane). Setahun berselang, tepatnya ketika Amerika terlibat dalam Perang Dunia 1, Pacific Aero Products lalu mengganti namanya menjadi Boeing Airplane Company. Sebagai perusahaan yang baru berdiri, Boeing bisa dibilang beruntung dengan jumlah pesanan 50 pesawat dari Angkatan Laut A. S. Berakhirnya masa Perang Dunia 1 menjadi titik balik bagi Boeing yang mulai menaruh perhatian serius untuk membangun pesawat layanan komersial.

Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing

Hingga pada tahun 1934, pemerintah Amerika Serikat menuduh William Boeing melakukan praktik monopoli. Di tahun yang sama, Air Mail Act memaksa perusahaan tersebut untuk memisahkan operasi penerbangan dari sektor pengembangan dan manufaktur. Dari situ, Boeing terpaksa memecah perusahaannya menjadi tiga entitas, yaitu United Aircraft Corporation (sekarang menjadi United Technologies Corporation), Boeing Airplane Company (sekarang menjadi The Boeing Company), dan United Air Lines.

Di masa tuanya, Boeing lebih memilih untuk mengembangkan bisnis properti dan pengembangbiakkan kuda ras. Pada 28 September 1956, tepat tiga hari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ke 75, Boeing meninggal akibat serangan jantung. Itu berarti Boeing meninggal setahun sebelum penerbangan Boeing 707, yang menjadi salah satu pesawat jet komersial jarak jauh tersukses kala itu. Kini, mantan pengusaha kayu tersebut sudah mengguratkan banyak tinta emas dan berpengaruh besar di dunia penerbangan internasional. Selamat jalan, Boeing!