Moda Transportasi di Bandara Ngurah Rai dan Hasanuddin, Antara Fakta dan Harapan

0
Damri di Bandara Sultan Hasanuddin

Apa yang ada dipikiran Anda saat berbicara mengenai bandara? Mungkin Anda lebih berpikir mengenai penanganan keberangkatan dan kedatangan seperti di konter check in atau pelayanan maskapai saat klaim bagasi. Lain dari itu yang kerap pengguna jasa bayangkan adalah seberapa modern si bandara yang mau disambangi.

Nah menyangkut ‘kadar’ modern diantaranya seperti apa fasilitas yang disediakan seperti tempat makan, nursery, ruang tunggu dan moda transportasi penunjang dari dan ke bandara tersebut. Yang disebut terakhir yakni moda transportasi penunjang di bandara menjadi bahasan menarik, pasalnya meski ada beragam update dan upaya peningkatan fasilitas, masih ada beberapa faktor yang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan operator bandara. Kali ini KabarPenumpang.com mengulas terkait masalah moda transportasi yang ada di Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar dan Sultan Hasanuddin di Makassar.

Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo

Bandara Ngurah Rai 
Bandara internasional andalan PT Angkasa Pura I ini belum lama telah menyabet penghargaan The 3rd World Best Airport 2016, namun masih satu tingkat di bawah Cina. Kenapa? Ternyata pangkal musababnya karena di Ngurah Rai belum tersedianya kereta bandara.

Co GM Commercial Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Rahadian D Yogisworo mengatakan, Bali merupakan daerah yang unik dimana tidak ada transportasi massa seperti angkutan umum, apalagi kereta. Sebab Bali tidak dirancang dengan moda transportasi kereta. Menurut Yogi, ini dikarenakan Bali lebih di dukung dengan rental mobilnya.

“Sebenarnya ada Damri, selain rental mobil, tetapi hanya sampai ke Denpasar dan Terminal Ubung. Apalagi bandara di Bali ini kan dekat dengan jalan, moda online juga banyak jadi penumpang banyak yang pilih itu,” jelasnya saat ditemui KabarPenumpang.com di Graha Angkasa Pura I, (24/10/2017).

Sedangkan untuk turis asal luar negeri, Yogisworo mengatakan, sudah ada jemputan langsung dari pihak tour dan travel yang menyelenggarakan atau kembali menggunakan taksi yang ada di bandara. “Untuk turis asal luar negeri biasanya mereka di jemput pakai bus. Makanya untuk transportasi lain kita menjalankan yang kerjasama dengan Angkasa Pura I saja saat ini dan tidak banyak hanya taksi dan Damri saja,” tambahnya. Untuk moda berbasis online belum bisa masuk bandara, sebab pihak operator bandara masih mengikuti amanat dari undang-undang yang berlaku saat ini dan menyesuaikan tempat parkir yang ada.

Bandara I Gusti Ngurah Rai

Ciri khas dari Bandara Ngurah Rai lainnya, lokasi bandara dekat sekali dengan jalan raya dan memiliki akses transportasi yang lebih mudah. Tetapi, memang untuk pengguna jasa sendiri lebih banyak yang menggunakan mobil rental.

Bandara Hasanuddin
Bandara yang berstatus internasional dan juga berada di bawah manajemen PT Angkasa Pura I ini telah mendapatkan penghargaan The Most Improved Airport in Asia-Pasific 2016 dari Airport Council International (ACI) dalam ajang ASQ Award 2016.

Selain Bali, Makassar juga menyediakan bus Damri dan bekerjasama dengan 15 operator taksi yang ada di Makassar. GM Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Cecep Marga Sonjaya mengatakan, Damri yang ada di bandara ini memiliki rentang waktu keberangkatan 30 menit sampai satu jam sekali untuk akses dari bandara menuju kota.

Sehingga menurutnya, transportasi yang ada di bandara Makassar bisa dikatakan banyak pilihan. Sebab, berbeda dengan Bali yang jaraknya tak jauh dengan jalan raya, bandara Sultan Hasanuddin memiliki jarak sekitar tiga kilometer untuk sampai ke jalan raya.

Baca juga: Bandara Silangit Terintegrasi Shuttle Bus Menuju Pulau Samosir

“Jaraknya dari bandara ke jalan raya itu cukup jauh sekitar tiga kilometer, bus dan taksi inilah yang digunakan sebagai penghubung dari bandara ke kota atau mobil rental. Tergantung pilihan penumpangnya sendiri,” ujarnya.

Cecep menegaskan, bandara Sultan Hasanuddin yang bekerjasama dengan 15 operator taksi dan  sudah menggunakan metode digital untuk mendapatkan taksi. Menurutnya, metode ini lebih mudah dibandingkan dengan adanya kontak manusia. “Dulu problem yang kita hadapai itu ramai dengan konter taksi, sekarang sudah ada sistem digital, jadi penumpang bisa memilih taksi yang mana dan kami mengurangi kontak dengan orang tetapi perbanyak kontak dengan mesin. Ini untuk memudahkan penumpang,” jelasnya.

Cecep menambahkan, dengan adanya era digital di bandara Makassar, penumpang jadi memiliki pilihan yang lebih baik. Sebab tidak semua penumpang ingin menggunakan taksi mewah, ada juga yang masih menggunakan bus. Ia mengatakan bila tahun depan ada kereta yang melalui bandara, pilihan moda penumpang pastinya lebih banyak lagi. Adapun taksi berbasis online, menurut Cecep, saat ini hanya bisa mendrop penumpang di bandara dan tidak diperolehkan untuk mengambil penumpang.

“Taksi online bisa masuk tapi hanya menurunkan dan tidak bisa mengambil penumpang. Karena kan kita sudah bekerjasama dengan 15 operator taksi yang sudah terorganisir. Kalau nantinya taksi online bergabung bisa saja dan akan kembali ke sistem, soalnya aturan pemerintah belum ada, nah kalau ada mungkin bisa,” tutur Cecep.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply