Yang Unik dari Stasiun Kuala Lumpur, Padukan Desain Barat dan Timur

0
Stasiun Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: Wikipedia

Terletak di ibu kota negara, Stasiun Kuala Lumpur tergolong bangunan bersejarah yang telah berusia tua di Malaysia, lantaran stasiun ini sudah beroperasi sejak tahun 1910. Kehadirannya menggantikan sebuah stasiun yang lebih lama pada lokasi yang sama dan pernah menjadi penghubung kereta api di kota ini bagi Keretapi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu dan Keretapi Tanah Melayu sebelum Kuala Lumpur Sentral mengambil alih tahun 2001.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

Bangunan Stasiun Kuala Lumpur memiliki ciri khas gaya perpaduan Barat dan Timur. Di mana memiliki tiga platform tinggi yang melayani empat platform dengan dua platform tepi pada dua sisi dan satu platform pulau ditengah. KabarPenumpang.com merangkum Wikipedia, Stasiun Kuala Lumpur awalnya terdiri dari satu terminal utama di depan gedung dan tiga platform kereta api yang mengoperasikan empat platform di bagian belakang.

Struktur utama terdiri dari aula utama, loket tiket dan kantor yang dirancang khusus dengan gaya Raj yakni campuran Barat dan Mughal mirip dengan arsitektur kebangkitan Moor atau Indo-Arab. Bagkan menjadi populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di koloni India, termasuk di Eropa dan Inggris.

Tak hanya itu, ada juga bangunan ladam kuda dan gerbang Ogee serta chhatri besar di sudut bangunan menemani variasi yang lebih kecil di depan. Stasiun ini sebanding dengan bangunan Sultan Abdul Samad dan struktur yang dibangun di sekitar Lapangan Merdeka selama periode ini.

Bukan hanya ada bangunan utama, ada tiga lantai tambahan di sayap kanan ditambahkan pada awal periode operasi dengan menerapkan desain Barat saat ini dengan perimeter dan segmen gerbang yang terpisah. Bagian depan Stasiun Kuala Lumpur ini sama sekali berbeda dari bangunan gaya yang sama yang memilih bata terbuka dan dicat dengan berbagai warna cerah.

Atap stasiun berkerangka baja yang lebih tinggi dari bangunan awal sebelumnya. Sisi peron tidak terhubung ke bangunan utama dan dikelilingi oleh dinding yang dibangun sesuai dengan gaya yang sama dengan bangunan utama. Peron dan bangunan utama dihubungkan melalui dua lorong bawah tanah.

Baca juga: Pembangunan Transit Oriented Development di Malaysia, Ternyata Juga Tidak Mudah

Desain platform tambahan selama modifikasi stasiun pada tahun 1986 dengan pendekatan yang lebih terkini, terdiri dari tiang beton besar yang mendukung atap berhiasan dan kantor tiket yang terbuat dari beton di ujung utara, bergantung pada dua lantai di udara. Dinding dan lengkungan putih yang bertindak sebagai hiasan dekoratif menambah lebih banyak pada kompleks Dayabumi. Stasiun ini terletak di Jalan Sultan Hishamuddin, atau dulu dikenal sebagai Victory Avenue.