9 Januari 2026 menandai tepat 15 tahun sejak peristiwa memilukan yang menimpa dunia penerbangan Timur Tengah, yakni jatuhnya Iran Air Flight 277. Pada malam hari tanggal 9 Januari 2011, sebuah pesawat Boeing 727-286Adv milik maskapai nasional Iran jatuh di dekat kota Urmia, Provinsi Azerbaijan Barat, merenggut 77 nyawa dan meninggalkan luka mendalam bagi industri dirgantara yang tengah berjuang melawan sanksi internasional.
Pesawat dengan kode registrasi EP-IRP tersebut lepas landas dari Bandara Mehrabad, Teheran, menuju Bandara Urmia dengan membawa 105 orang (94 penumpang dan 11 awak). Saat mendekati tujuan, wilayah Urmia sedang dilanda cuaca sangat buruk dengan jarak pandang rendah dan hujan salju lebat.
Setelah upaya pendaratan pertama gagal akibat kabut tebal, pilot memutuskan untuk melakukan prosedur go-around (terbang kembali untuk mencoba pendaratan kedua). Namun, tak lama setelah membatalkan pendaratan, pesawat kehilangan ketinggian dengan cepat dan jatuh di sebuah area persawahan dekat desa Tarmani, sekitar 8 kilometer dari landasan pacu.

Pesawat hancur menjadi beberapa bagian besar, namun beruntung tidak terjadi ledakan hebat, sehingga 28 orang berhasil ditemukan selamat dari reruntuhan di tengah tumpukan salju.
Penyelidikan resmi oleh otoritas penerbangan sipil Iran menyimpulkan bahwa faktor utama kecelakaan adalah kondisi pembekuan (icing) yang parah. Akumulasi es pada lubang masuk udara mesin menyebabkan mesin nomor 1 dan nomor 3 mengalami mati mendalam (flame-out).
Ketidakmampuan kru untuk mengelola tenaga mesin dalam kondisi icing ekstrem tersebut membuat pesawat tidak memiliki daya dorong yang cukup untuk mendaki kembali saat proses go-around. Selain itu, faktor usia pesawat—yang diproduksi pada tahun 1974—dan keterbatasan suku cadang akibat sanksi ekonomi seringkali disebut sebagai latar belakang tantangan pemeliharaan armada udara di Iran pada masa itu.
Pesawat yang terlibat dalam insiden ini memiliki sejarah yang panjang dan unik. Sebelum jatuh di Urmia, EP-IRP sempat disita di Baghdad, Irak, selama bertahun-tahun (1984–1990) akibat dampak perang Iran-Irak, dan baru kembali beroperasi setelah menjalani perbaikan besar pada tahun 2002.
Lima belas tahun setelah tragedi tersebut, nama Iran Air 277 tetap menjadi pengingat bagi dunia internasional mengenai pentingnya standar keselamatan penerbangan dan akses terhadap pembaruan teknologi pesawat, terlepas dari dinamika politik global. Bagi masyarakat Urmia, reruntuhan di tengah badai salju malam itu adalah memori tentang keberanian tim SAR yang bekerja di bawah nol derajat demi menyelamatkan nyawa yang tersisa.
