88 Tahun Lalu, Kapal Perang Belanda “De Zeven Provinciën” Diambil Alih Pemberontak di Lepas Pantai Sumatera

0
Kapal Hr.Ms. De Zeven Provinciën diambil alih oleh para pemberontak

Tanggal 5 Februari 1933 menjadi sebuah tragedi yang cukup besar di lepas pantai Sumatera yang disebut dengan peristiwa Zeven Provinciën (Hr.Ms. De Zeven Provinciën). Pasalnya pada tanggal tersebut ada pemberontakan yang terjadi di atas kapal Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Koninlijke Marine) HNLMS De Zeven Provinciën.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Penyebab pemberontakan adalah karena keputusan penurunan gaji pegawai pemerintah Hindia Belanda sebesar 17 persen yang diumumkan pada 1 Januari 1933. Penurunan gaji pegawai merupakan upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengurangi defisit anggaran belanja akibat depresi ekonomi yang melanda dunia pada saat itu.

Namun keputusan tersebut mendapat tantangan hebat dari semua pihak, baik pegawai berkebangsaan Eropa, Indonesia maupun Eurasia yang ada di pemerintahan Hindia Belanda. Pemberontakan di atas kapal Zeven Provincien tersebut di atasi dengan cara pengeboman kapal tersebut oleh pesawat udara angkatan laut Belanda.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebab dan tujuan dari pemberontakan ini masih diperdebatkan, baik dalam opini publik dan sistem politik Hindia Belanda yang berlaku saat itu maupun di antara sejarahwan saat ini. Tanggal 4 Februari 1933, Untuk menenangkan situasi para perwira Belanda malah membuat blunder.

Mereka mengadakan pesta di kantin KNIL di Uleelheue, Aceh, dengan membuang duit sebesar 500 Gulden, dan menyediakan nona-nona Belanda untuk berdansa dengan para pelaut pribumi, tetapi pelaut Indonesia menolak hadir. Sekitar pukul 22.00 malam, peluit panjang berbunyi untuk menandai dimulainya pemberontakan.

Ketika itu, kapal sedang berlabuh di Pelabuhan Uleelheue, Banda Aceh dan para awak kapal melakukan pengambil-alihan kendali kapal dari tangan Belanda. Awak kapal keturunan Indonesia dipimpin oleh Paraja dan Gosal, sedangkan awak kapal Belanda dipimpin oleh Boshart dan Dooyeweerd.

Kelasi Paradja bertindak memegang komando, Kelasi Kelas Satu Kawilarang yang punya pengalaman di Eropa berfungsi sebagai navigator. Kelasi Rumambi berada di bagian komunikasi telepon, Hendrik sebagai pengatur bahan bakar, dan Kopral Gosal yang mengurusi bagian kesehatan.

Pada tanggal 5 Februari, pimpinan pemberontakan mengeluarkan siaran pers dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Indonesia (Melayu), yang memberitahukan bahwa Kapal perang Hr.Ms. De Zeven Provincien sudah diambil-alih oleh mereka dan sedang bergerak ke Surabaya.

“Maksud kami adalah memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan!” tulis pemberontak dalam siaran persnya.

Mendengar berita pemberontakan ini, pemerintah kolonial Hindia Belanda dibuat kalang-kabut. Gubernur Jenderal De Jonge memerintahkan kapal Hr.Ms. Aldebaren untuk mengejar dan begitu mendekat, Kawilarang yang bertugas di persenjataan, memberikan sinyal akan menembak jika kapal tersebut berani mendekat.

Kapal Aldebaren pun mundur dan berhenti mengejar. Namun, Belanda tidak berhenti dan mereka kembali mengirim kapal penyebar ranjau, Hr.Ms. Goudenleeuw, untuk melakukan pengejaran. Tetapi kapal ini tidak berani untuk terlalu mendekat.

Zeven Provinciën terus berlayar dan pada 5 Februari 1933 kapal sudah berada di Pulau Breueh, lalu 6 Februari 1933 berada di Pulau Simeulue, kemudian singgah di Sinabang pada 7 Februari 1933, dan akhirnya pada tanggal 10 Februari 1933 kapal De Zeven Provincien sudah sampai di Selat Sunda. Begitu memasuki Selat Sunda, kapal perang Hr.Ms. Java, dikawal dua kapal torpedo, Hr.Ms. Piet Hien dan Hr.Ms. Evetsen, langsung membayangi gerakan kapal tersebut.

Selain itu, untuk benar-benar melumpuhkan pemberontak, dikerahkan juga sebuah pesawat pembom Dornier. Komandan kapal Hr.Ms. Java, Van Dulm, mengirimkan telegram ultimatum kepada kapal De Zeven Provincien untuk segera menyerah. Tetapi Martin Paradja dan kawan-kawan menolak untuk menyerah.

Menteri Pertahanan Kerajaan Belanda, Laurentius Nicolaas Deckers, memberikan izin untuk melakukan penyerangan dengan pesawat militer. Kemudian pada hari Jumat, 10 Februari 1933, ada du bom yang dijatuhkan dan bom pertama tidak mengenai sasaran dan yang kedua jatuh ke geladak kapal.

Banyak korban karena bom ini baik yang tewas ataupun yang luka dan Kawilarang yang mengganti posisi Paradja sebagai pemimpin, akhirnya menyatakan menyerah dan meminta bantuan medis segera. Total 545 orang awak pribumi dan 81 awak Belanda ditahan, para pemberontak pribumi yang masih hidup dibawa dengan kapal Hr.Ms. Java dan pemberontak berkebangsaan Belanda dibawa dengan kapal Hr.Ms. Orion menuju Pulau Onrust.

Baca juga: 10 Kapal Misterius Ini Ditemukan Tanpa Awak

20 orang awak pribumi dan 3 awak Belanda juga dinyatakan tewas akibat serangan itu. Para pemberontak kapal De Zeven Provincien akhirnya ditahan di Pulau Onrust, di Kepulauan Seribu, lepas pantai Batavia.

LEAVE A REPLY