Tepat 17 tahun lalu, pada tanggal 28 November 2008, prototipe jet regional COMAC ARJ21 Xiangfeng (Flying Phoenix) lepas landas dari Lapangan Udara Dachang, Shanghai, menandai penerbangan perdananya yang sukses. Momen ini adalah titik balik penting dalam ambisi Cina untuk menjadi pemain utama dalam industri kedirgantaraan global.
Program ARJ21 (Advanced Regional Jet for the 21st Century) dimulai pada awal tahun 2002 di bawah konsorsium ACAC (kemudian diakuisisi oleh Commercial Aircraft Corporation of China – COMAC).
Desain ARJ21 banyak mengambil inspirasi dari pesawat McDonnell Douglas MD-90 yang pernah diproduksi di Cina di bawah lisensi. Ini terlihat dari penempatan mesin ganda di bagian belakang badan pesawat (aft-fuselage mounted engines).
Meskipun diklaim sebagai desain mandiri, ARJ21 mengandalkan komponen kritis dari Barat, termasuk mesin General Electric CF34-10A dan avionik dari Rockwell Collins. Pesawat ini dirancang khusus untuk memenuhi kondisi geografis Cina yang beragam, terutama rute dengan suhu tinggi dan ketinggian (hot and high), seperti di Cina bagian barat.
35 Persen Saham Dikuasai Perusahaan Cina, Jadi Alasan TransNusa Gunakan Pesawat Cina ARJ21?
Penerbangan perdana seharusnya dilakukan pada tahun 2005, tetapi mengalami penundaan besar selama tiga tahun karena kompleksitas perancangan dan proses sertifikasi.
Pada hari bersejarah 28 November 2008, prototipe ARJ21-700 berhasil lepas landas dan terbang selama sekitar satu jam, mencapai ketinggian 9.000 kaki. Penerbangan tersebut diklaim sangat sukses oleh COMAC dan memulai program uji coba penerbangan yang panjang.
Namun, uji coba penerbangan dan proses sertifikasi oleh Otoritas Penerbangan Sipil Tiongkok (CAAC) berlangsung selama enam tahun tambahan, yang membuat pesawat ini baru mendapatkan Sertifikasi Tipe CAAC pada Desember 2014.
ARJ21-700 secara resmi memasuki layanan komersial pada 28 Juni 2016 dengan maskapai peluncur (launch customer) adalah Chengdu Airlines. ARJ21 kini menjadi tulang punggung penerbangan regional di Cina, menghubungkan kota-kota kecil dan menengah.
Pesawat ini telah mencatat keberhasilan ekspor perdananya ke Asia Tenggara, dengan maskapai TransNusa (Indonesia) menjadi pelanggan internasional pertamanya pada akhir 2022. Hingga saat ini (akhir tahun 2025), COMAC telah mengirimkan lebih dari 170 unit ARJ21 kepada maskapai domestik dan internasional. Jumlah ini terus bertambah seiring peningkatan kapasitas produksi COMAC.
Gallop Air dari Brunei, Jadi Maskapai Internasional Kedua Pengguna COMAC ARJ21 Setelah TransNusa
