Sunday, January 18, 2026
HomeDaratMengenal Jembatan KA Rancagoong, Mahakarya Kolonial yang Masih Kokoh Hingga Kini

Mengenal Jembatan KA Rancagoong, Mahakarya Kolonial yang Masih Kokoh Hingga Kini

Jalur kereta api (KA) non aktif di Jawa Barat selalu asyik menjadi pembahasan. Selain terkenal, jalur tersebut menjadi saksi sejarah mahakarya sejak jaman Kolonial Belanda yang tak terlupakan. Bahkan hingga jejak peninggalannya masih dapat kita lihat secara utuh.

Tak hanya jalur KA non aktif antara Banjar – Pangandaran yang selalu menjadi sorotan media, namun jalur di Kabupaten Bandung pun juga terkenal dengan peninggalannya. Seperti halnya pada jalur Bandung – Ciwidey yang terdapat bangunan bersejarah dan masih kokoh hingga kini. Ya, inilah Jembatan Rancagoong.

Jembatan ini merupakan yang terpanjang dan tertinggi berada di jalur legendaris Stasiun Soreang – Stasiun Ciwidey. Tak hanya menjadi saksi bisu masa kejayaan perkeretaapian Hindia Belanda, jembatan ini juga pernah menjadi sorotan media televisi karena keindahannya yang luar biasa.

Dengan panjang mencapai 150 meter, jembatan ini menjulang di atas lembah sungai yang dalam dan membentang di antara hamparan sawah serta vegetasi alami. Struktur jembatan yang megah ini terdiri dari kombinasi rangka baja melengkung dan beton, menjadikannya tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis.

Di era kolonial Belanda, pembangunan Jembatan Rancagoong dimulai pada 1922 dan rampung pada 1924. Diletahui secara keseluruhan, jembatan ini memiliki panjang 150 meter, terdiri atas struktur beton sepanjang 90 meter dan rangka baja sepanjang 60 meter.

Sayangnya, jalur kereta api Bandung – Ciwidey sendiri resmi ditutup pada 1982, seiring menua­nya sarana prasarana serta kalah bersaing dengan moda transportasi kendaraan pribadi. Meskipun begitu jembatan ini memiliki keunikan tersendiri, keunikan Jembatan Rancagoong adalah terletak pada penggunaan beton sebagai bagian struktur utama, yang terbilang jarang ditemukan pada jembatan kereta api di luar kawasan perkotaan.

Rangka bajanya berasal dari bekas jembatan kereta api di atas Sungai Citarum, Karawang yang digunakan kembali akibat mahalnya harga besi pasca Perang Dunia Pertama. Meski sudah lama tidak difungsikan sebagai jalur kereta api, Jembatan Rancagoong hingga kini masih berdiri kokoh dan dimanfaatkan sebagai jalur alternatif bagi pengendara sepeda motor.

Kelengkapan jembatan ini pun makin terlihat pada bagian komponen penting, seperti “sleeko” (penyangga rel) masih tampak utuh di beberapa bagian jembatan. Saking jembatan ini masih terlihat utuh, tak sedikit pula wisatawan atau pemburu konten yang sengaja datang ke lokasi ini demi mengabadikan keindahan jembatan tersebut. Keberadaan jembatan ini jelas menjadi bukti kehebatan insinyur Belanda dalam membangun infrastruktur kokoh yang tetap berdiri tegak meski telah berusia hampir satu abad.

Dari sinilah sudah yakin bahwa Jembatan Rancagoong bukan sekadar peninggalan sejarah semata, melainkan simbol harapan agar jalur kereta Bandung – Ciwidey bisa kembali berfungsi dan menjadi moda transportasi ramah lingkungan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.

Inilah “Hendrik”, Terowongan Kereta Terpendek di Indonesia

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru