Sunday, January 18, 2026
HomeAnalisa AngkutanBus Listrik Cina Rajai Asia Tenggara: Ujung Tombak Dekarbonisasi Transportasi Publik

Bus Listrik Cina Rajai Asia Tenggara: Ujung Tombak Dekarbonisasi Transportasi Publik

Upaya negara-negara di Asia Tenggara untuk mencapai target emisi nol bersih (net-zero emissions) kini memiliki “wajah” baru yang sangat dominan, yaitu bus listrik asal Cina. Dalam laporan terbaru, raksasa otomotif dari Negeri Tirai Bambu tercatat memimpin pasar kendaraan listrik komersial di kawasan ini, mengungguli pemain tradisional dari Jepang dan Eropa yang selama puluhan tahun menguasai transportasi publik regional.

Dominasi ini bukan tanpa alasan. Produsen seperti BYD, Yutong, Skywell, dan Zhongtong menawarkan kombinasi antara harga yang kompetitif, teknologi baterai yang matang, serta kemampuan produksi massal yang belum tertandingi.

Indonesia menjadi salah satu pasar paling dinamis bagi bus listrik Cina. Melalui operator transportasi publik Transjakarta, ratusan armada bus listrik buatan BYD dan Skywell telah beroperasi di rute-rute utama ibu kota. Pemerintah Indonesia bahkan menargetkan elektrifikasi penuh hingga 10.000 unit armada Transjakarta pada tahun 2030, di mana sebagian besar pasokan diharapkan datang dari kemitraan dengan perusahaan Cina yang telah membangun fasilitas perakitan lokal.

Operasikan 400.000 Unit, Populasi Bus Listrik Terbesar Masih di Cina

Langkah serupa terlihat di Singapura. Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura secara agresif memperbarui armada busnya dengan target elektrifikasi 100% pada tahun 2040. Baru-baru ini, kontrak pengadaan ratusan bus listrik baru kembali dimenangkan oleh konsorsium yang melibatkan produsen Cina, memperkuat posisi mereka sebagai penyedia infrastruktur transportasi bersih yang paling diandalkan.

Faktor Kunci Kesuksesan China
Ada beberapa faktor utama yang membuat bus listrik China menjadi pilihan utama dalam agenda dekarbonisasi Asia Tenggara:

Efisiensi Operasional
Berbeda dengan bus diesel, bus listrik Cina menawarkan transmisi otomatis yang lebih halus, biaya perawatan yang lebih rendah, serta kemudahan sistem pengisian daya semalam (overnight charging) di depo.

Infrastruktur yang Terintegrasi
Perusahaan Cina tidak hanya menjual bus, tetapi juga menawarkan solusi ekosistem lengkap, termasuk pemasangan stasiun pengisian daya dan sistem manajemen baterai.

Dukungan Kebijakan Pemerintah
Banyak negara ASEAN, seperti Thailand dan Malaysia, memberikan insentif pajak dan subsidi bagi kendaraan listrik impor maupun rakitan lokal, yang sangat menguntungkan model bisnis ekspansif perusahaan Cina.

Meskipun mendominasi secara teknis dan ekonomi, tantangan bagi perusahaan Cina tetap ada, terutama terkait sentimen geopolitik di beberapa negara. Di Filipina, misalnya, meskipun bus listrik Cina sangat efisien, ketegangan di Laut Cina Selatan terkadang memicu politisasi terhadap teknologi asal Cina.

Namun, di tengah tekanan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, kebutuhan akan transportasi publik yang bersih tampaknya lebih kuat dibandingkan hambatan politik. Dengan target dekarbonisasi yang ambisius di seluruh ASEAN, bus listrik Cina diprediksi akan terus menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan yang lebih hijau, senyap, dan berkelanjutan di masa depan.

Ancaman Sabotase! Bus Listrik Cina di Inggris Diduga Memiliki ‘Kill Switch’ yang Bisa Dimatikan Jarak Jauh

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru