Dunia internasional kini tengah memberikan perhatian khusus pada pergerakan penumpang di bandara, terutama setelah Thailand memperketat kontrol kesehatan terhadap pelancong dari wilayah tertentu di India akibat kemunculan kembali Virus Nipah. Virus ini bukanlah ancaman baru dalam dunia medis, namun sifatnya yang mematikan menuntut respons cepat dari otoritas transportasi global.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura. Secara alami, virus ini dibawa oleh kelelawar buah dari famili Pteropodidae dan dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, atau melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh air liur atau urine kelelawar tersebut.
Dalam tubuh manusia, Virus Nipah menyerang sistem yang sangat vital, yakni sistem saraf pusat dan sistem pernapasan. Infeksi ini bersifat zoonosis, yang berarti berpindah dari hewan ke manusia, namun penularan antarmanusia juga sangat mungkin terjadi melalui cairan tubuh.
Gejala awal yang muncul sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, dan muntah. Namun, yang membuat virus ini sangat berbahaya adalah progresivitasnya yang cepat menuju peradangan otak atau ensefalitis. Pasien dapat mengalami pusing yang ekstrem, perubahan kesadaran, hingga koma dalam waktu 24 hingga 48 jam. Dalam banyak kasus, infeksi ini juga menyebabkan kegagalan pernapasan akut yang memperparah kondisi klinis penderita.
Menanggapi risiko ini, sektor transportasi internasional, khususnya bandara di Thailand, mulai menerapkan protokol deteksi dini yang ketat. Langkah pengetatan dilakukan melalui penggunaan pemindai suhu tubuh (thermal scanner) di pintu kedatangan internasional untuk menyaring penumpang dengan gejala demam. Selain itu, petugas kesehatan dikerahkan untuk melakukan observasi visual terhadap tanda-tanda gangguan pernapasan atau kelesuan pada penumpang yang datang dari zona merah. Maskapai penerbangan juga diinstruksikan untuk segera melaporkan jika terdapat penumpang yang menunjukkan gejala sakit selama penerbangan guna dilakukan prosedur karantina darurat setibanya di landasan.
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga telah meningkatkan kewaspadaan di pintu-pintu masuk negara, meskipun fokus utama tetap pada pengawasan ketat terhadap pelaku perjalanan dari daerah yang terkonfirmasi mengalami wabah. Indonesia memiliki risiko karena secara geografis merupakan habitat bagi kelelawar buah yang menjadi inang alami virus ini. Oleh karena itu, penguatan laboratorium rujukan dan sosialisasi kepada tenaga medis di fasilitas kesehatan pelabuhan menjadi langkah preventif utama yang diambil agar kasus dapat terdeteksi sebelum menyebar ke komunitas.
Jika dibandingkan dengan Covid-19, terdapat perbedaan mendasar pada mekanisme penyebaran dan tingkat fatalitasnya. Covid-19 dikenal karena daya tularnya yang sangat masif dan cepat (highly transmissible) meski tingkat kematian rata-ratanya cenderung lebih rendah secara persentase dibandingkan Nipah.
Sebaliknya, Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi, yakni berkisar antara 40% hingga 75% menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perbedaan lainnya terletak pada ketersediaan penanganan medis; jika Covid-19 sudah memiliki berbagai jenis vaksin dan protokol pengobatan yang mapan, hingga saat ini belum ada vaksin atau obat antivirus spesifik yang disetujui untuk mengatasi infeksi Virus Nipah, sehingga perawatan medis hanya bersifat suportif untuk meringankan gejala.
Berbeda dengan banyak negara lain yang hanya mencatat satu kali kejadian besar, India telah menghadapi setidaknya empat kali wabah Nipah yang signifikan sejak tahun 2018 (yakni pada 2018, 2019, 2021, dan kembali terjadi pada pertengahan 2023 hingga awal 2026). Frekuensi yang sering ini menunjukkan bahwa virus tersebut telah menetap secara permanen dalam populasi kelelawar lokal di wilayah tersebut, menciptakan ancaman yang selalu mengintai.
Lengkapi Teknologi HEPA, Airshield Tawarkan Proteksi Ekstra Anti Virus dan Bakteri di Kabin Pesawat
