Wednesday, February 18, 2026
HomeAnalisa AngkutanLintasi Perbatasan dalam Lima Menit: Menyongsong Operasional RTS Link Johor Bahru-Singapura 2027

Lintasi Perbatasan dalam Lima Menit: Menyongsong Operasional RTS Link Johor Bahru-Singapura 2027

Wajah perbatasan paling sibuk di dunia antara Johor Bahru dan Singapura sedang bersiap menghadapi revolusi besar. Memasuki tahun 2026, kemajuan fisik proyek Rapid Transit System (RTS) Link telah mencapai titik puncak konstruksi.

Dengan target operasional yang ditetapkan pada Januari 2027, proyek ini bukan sekadar jembatan biasa, melainkan jalur nadi sepanjang 4 kilometer yang dirancang khusus untuk mengakhiri era kemacetan panjang di Selat Johor.

Meskipun jaraknya terlihat pendek, jalur sepanjang 4 kilometer ini merupakan sebuah keajaiban teknik sipil. Sekitar 2,7 kilometer dari jalur tersebut berada di wilayah Malaysia, sementara sisanya masuk dalam wilayah Singapura. Jalur ini membentang di atas jembatan layang setinggi 25 meter di atas permukaan air laut Selat Johor sebelum masuk ke terowongan bawah tanah saat mendekati stasiun tujuan di Singapura.

Jalur ini menghubungkan dua titik strategis: Stasiun Bukit Chagar di Johor Bahru dan Stasiun Woodlands North di Singapura. Dengan kapasitas angkut mencapai 10.000 penumpang per jam di setiap arah, jalur singkat ini diproyeksikan mampu menyerap hingga 35 persen beban lalu lintas di jembatan utama.

Banyak orang mengira RTS Link akan menggunakan kereta api jarak jauh, namun faktanya, jenis kereta yang digunakan adalah Light Rapid Transit (LRT) atau sistem Metro yang menggunakan armada Light Rail Vehicle (LRV) berkapasitas tinggi. Kereta ini memiliki desain yang serupa dengan armada di jalur Thomson-East Coast Line Singapura.

Secara teknis, sistem ini menggunakan empat gerbong per rangkaian (4-car trainsets) yang digerakkan secara otomatis tanpa masinis. Meski masuk kategori metro, kecepatannya dioptimalkan untuk jarak pendek sehingga waktu tempuh antar-stasiun hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Keunggulan jenis kereta ini adalah akselerasinya yang cepat dan kemampuan turnaround (berbalik arah) yang singkat di stasiun ujung, sehingga frekuensi kedatangan kereta bisa diatur setiap 3,6 menit pada jam sibuk.

Salah satu fitur paling inovatif yang mendukung operasional kereta ini adalah sistem Co-located Customs, Immigration and Quarantine (CIQ). Melalui sistem ini, penumpang hanya perlu melakukan pemeriksaan dokumen imigrasi satu kali di titik keberangkatan.

Berkat efisiensi kereta metro dan integrasi imigrasi ini, total waktu yang dibutuhkan sejak Anda masuk stasiun di Malaysia hingga keluar di Singapura diperkirakan bisa kurang dari 15 menit—sebuah lompatan besar dibandingkan waktu berjam-jam yang sering dihabiskan dalam antrean kendaraan.

Dampak dari operasional RTS Link pada Januari 2027 diprediksi akan sangat luas. Di sisi Singapura, Stasiun Woodlands North akan terintegrasi langsung dengan jaringan Thomson-East Coast Line (TEL), memungkinkan penumpang untuk melanjutkan perjalanan ke pusat kota Singapura dengan sangat mudah.

Sinergi ini menciptakan ekosistem transportasi yang mulus, menjadikan kawasan Johor-Singapura sebagai satu kesatuan ekonomi yang saling mendukung, mirip dengan konsep kota kembar di belahan dunia maju lainnya.

Lagi-Lagi Proyek High-Speed Rail Malaysia dan Singapura Ditangguhkan

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru