Tuesday, May 26, 2026
HomeAnalisa AngkutanSelain Diambil dari Bahasa Belanda, Ternyata Ada Asal Usul Lain pada Nama...

Selain Diambil dari Bahasa Belanda, Ternyata Ada Asal Usul Lain pada Nama ‘Lampegan’

Masyarakat tentu paham betul nama dari daerah di Cianjur Jawa Barat ini sudah sangat terkenal jika menggunakan kereta api. Ya, baik stasiun maupun terowongan legendaris, nama Lampegan sudah santer di telinga masyarakat. Apalagi yang biasa menggunakan kereta api lokal Siliwangi dengan rute Sukabumi – Cianjur – Cipatat pulang pergi.

Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

Meski bangunan stasiunnya kecil dan statusnya kelas 3, namun dari segi sejarah tentu area tersebut memiliki cagar budaya yang kental. Karena selain stasiun, terowongan yang digadang-gadang memiliki sejuta kisah tersebut masih dapat dijumpai lengkap dengan ornamennya yang kokoh.

Selain kisah yang panjang dan legendaris, terowongan maupun stasiun Lampegan turut menjadi bagian penting dalam perjalanan kereta api. Masyarakat yang menggunakan kereta api yang naik dan turun di Stasiun Lampegan pun cukup ramai, karena akses dari area tersebut menuju jalan raya antar kota cukup jauh.

Selain Lampegan Jalur KA Kawasan Ciganea juga Terkenal Ekstrem, Ini Penyebabnya

Lalu, kira-kira dari mana muncul nama Lampegan tersebut? Tak lain itu berasal dari kondektur kereta api yang tiap menjelang terowongan kerap berteriak: “Lampen aan!” yang berarti “nyalakan lampu”. Di telinga orang lokal kata-kata itu seolah terdengar sebagai “lampegan”.

Saat itu ada juga yang mengatakan “Lamp a gan,” yang berarti untuk memerintahkan agar lampu segera dinyalakan untuk membantu masinis mengemudi dalam terowongan gelap itu. Versi lainnya mengatakan bahwa Lampegan merupakan perintah mandor proyek Van Beckman yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan Inggris pada anak buahnya, “Lamp pegang! Lamp pegang!” katanya ketika hendak memasuki terowongan untuk memantau hasil kerja mereka.

Lalu versi berikutnya dalam tulisannya, Kereta Api dan Jejak Penjajahan Belanda di Priangan: Dari Tanam Paksa Hingga Plesiran Kode teriakan dari petugas stasiun pada saat selesai menyalakan lampu adalah “lampen gaan”. Lampen gaan dari kata Belanda yang artinya lampu sudah menyala. Kata-kata ini berulang terus setiap lokomotif masuk ke arah terowongan dan itu kemudian ditangkap oleh orang-orang lokal yang menyangka itu adalah seolah-olah nama dari terowongan ini. Sehingga sampai sekarang disebut dengan Lampegan.

Menurut tiga tulisan di atas, setidak ada empat versi asal-usul, yaitu: lampen aan!, lamp a gan, lamp pegang!, dan lampen gaan untuk nama terowongan yang mulai dibangun tahun 1879, yang digali dari kedua sisinya. Dari arah Sukabumi terowongan digali di daerah Bencoy, Cireunghas, dan dari arah Cianjur digali di daerah Cimenteng, Campaka.

Pada Peta Topografi yang terbit tahun 1908, terowongan kereta api pertama di Hindia Belanda ini menembus bebatuan di antara Gunung Lampegan dan Gunung Kendeng. Nama stasiunnya mengacu pada nama geografi yang sudah terlebih dahulu dibangun dibandingkan dengan tempat di ujung barat-dayanya.

Nama geografi tempat penduduk bermukim sudah ada dengan nama Lampegan, mengikuti nama Gunung Lampegan. Pemberian nama perkebunan Lampegan pun karena lokasinya berada di sekitar Gunung Lampegan, yang dijadikan penanda bumi.

Nama geografi Gunung Lampegan diambil dari nama tumbuhan yang banyak tumbuh di sana, yaitu tumbuhan lampegan, sehingga menjadi ciri bumi kawasan. Dalam Kamus Basa Sunda karya R. Satjadibrata (cetakan pertama, Jakarta, 1946), lampegan, ngaran tatangkalan leutik, nama tumbuhan kecil.

Lintasan kereta api antara Batavia sampai Buitenzorg sudah dibangun oleh pihak swasta. Karena nilai ekonomi yang sangat tinggi di kawasan antara Bogor – Sukabumi – Cianjur. Pembangunan lintasan kereta api itu untuk mendukung pengangkutan hasil dari perkebunan-perkebunan yang sudah ada lebih dulu, satu di antaranya Perkebunan Lampegan.

Artinya, nama geografi Gunung Lampegan, kemudian menjadi nama Perkebunan Lampegan, dan Kampung Lampegan, sudah ada ketika lintasan kereta api itu dibangun. Pastilah nama terowongan sepanjang 632 meter dan nama stasiunnya mengacu pada nama geografi yang sudah ada, yaitu Lampegan, bukan dari teriakan masinis, lampen aan! lamp a gan, lamp pegang!, atau lampen gaan!

Julukan KA “Argo Peuyeum” Sempat Muncul Karena Adanya Stasiun Ini

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru