Wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung memiliki panorama kereta api yang membuat penumpang di dalamnya merasa kagum. Ya, keindahan jalur kereta api yang melewati perbukitan, sawah, pedesaan, serta jembatan yang menyeberangi jurang dan sungai menjadi daya tarik utama. Tak heran beberapa penumpang yang menikmatinya tentu mengabadikan lewat bidikan kamera salah satunya melalui ponsel.
Namun disisi lain jalur kereta api yang terkenal dengan panorama indah tersebut memang ada beberapa wilayah yang cukup ekstrem. Maka dari itu wilayah tersebut memang selalu melakukan pengecekan rutin oleh jajaran dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang bertugas dibidangnya. Agar perjalanan kereta api selalu aman, nyaman, dan terkendali.
Salah satu kawasan yang terkenal dengan jalurnya yang ekstrem tersebut yaitu antara petak Purwakarta – Ciganea – Sukatani. Memang sepintas jalur tersebut biasa saja, hanya yang terlihat undakan bukit serta banyaknya liukan dan beberapa jembatan kecil.
Namun jika di telusuri lebih dalam, petugas KAI melihat bahwa jalur tersebut memang rawan dengan bencana. Salah satu kawasan yang rawan tersebut adalah memiliki intensitas curah hujan yang tinggi.
Terlebih jalur Purwakarta sampai dengan Sukatani sudah memasuki dalam jalur pengawasan KAI Daop 2 Bandung. Karena masuk dalam titik rawan, petugas pun disiapkan untuk selalu siaga memeriksa kondisi rel secara rutin dan pada saat terjadi hujan.
Apalagi memasuki arus mudik Lebaran 2026. Beberapa kereta api tambahan pun melewati jalur tersebut. Tentu siaga terus dilakukan oleh petugas dari KAI. Executive Vice President KAI Daop 2 Bandung, Hendra Wahyono, menjelaskan titik-titik tersebut memiliki risiko seperti tanah ambles, longsor, banjir, hingga kerentanan pada jembatan.
Pengawasan dilakukan secara intensif untuk memastikan perjalanan kereta tetap aman dan lancar. Salah satu titik yang mendapat perhatian khusus berada di wilayah Ciganea, Purwakarta. Lokasi ini dinilai kritis karena kondisi jembatan yang berada di atas aliran sungai dengan arus deras, terlebih saat intensitas hujan masih tinggi.
Tak heran, saat terjadi longsor beberapa perjalanan kereta api melakukan perjalanan dengan kecepatan terbatas yakni maksimal 5 km/jam. Namun jika longsor sampai menutupi rel kereta api KAI menginstruksikan untuk perjalanan kereta api dihentikan sementara sampai pembersihan dilakukan.
Meskipun wilayah tersebut memiliki tingkat rawan yang signifikan, namun pengawasan selalu dilakukan secara tepat dan terkoordinasi oleh petugas prasarana KAI di lokasi rawan bencana dan tetap mengutamakan aspek keselamatan perjalanan kereta api sebagai prioritas utama.
Selain Ciganea, ada beberapa titik lain yang masuk kategori rawan berada di Rancaekek, Cimekar, Cicalengka, serta jalur Lampegan–Cibogor. Untuk mengantisipasi gangguan, KAI menempatkan petugas tambahan di lokasi-lokasi tersebut dan menyiagakan Alat Material untuk Siaga (AMUS) di Purwakarta, Bandung, dan Tasikmalaya.
Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng
