Friday, May 1, 2026
HomeAnalisa AngkutanNaik KA Pandanwangi? Jangan Lupa Turun di Stasiun Glenmore dan Nikmati ...

Naik KA Pandanwangi? Jangan Lupa Turun di Stasiun Glenmore dan Nikmati Wisata Alamnya yang Sejuk

Menggunakan Kereta Api (KA) Pandanwangi untuk beraktivitas atau sekadar bepergian mengisi waktu liburan, kenapa tidak. Dengan biaya yang relatif murah, naik kereta api jenis lokal ini bisa dinikmati masyarakat dan disuguhkan dengan pemandangan cukup indah. Ya, KA Pandanwangi ini memiliki relasi Stasiun Jember – Ketapang pulang pergi.

Daerah Operasi (Daop) 9 Jember saat ini cukup ramai dilewati kereta api jarak jauh dari berbagai wilayah di Pulau Jawa. Namun, tak semua kereta api tersebut berhenti dan singgah di stasiun-stasiun yang banyak penumpangnya termasuk stasiun kecil (kelas III). Maka dari itu, wilayah Daop 9 Jember masih memiliki perjalanan kereta api lokal yang berhenti baik di stasiun besar maupun kecil.

Sejak Agustus 2025 lalu, KA Pandanwangi telah menambah 6 stasiun pemberhentian. Tentu PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) ada alasan tersendiri. Sejak penutupan sementara jalur nasional di kawasan Gumitir yang berdampak pada mobilitas masyarakat Banyuwangi – Jember, kebijakan penambahan stasiun tersebut agar masyarakat memiliki alternatif perjalanan yang lebih nyaman dan aman.

Melewati 6 stasiun ini tentu penumpang bisa merasakan kehadiran jalur perjalanan yang menyuguhkan panorama hijau sepanjang lintasan. Penumpang tak hanya mendapatkan sarana transportasi yang efektif, tetapi juga pengalaman wisata tersendiri dari dalam kereta.

6 Stasiun pemberhentian tersebut meliputi: Stasiun Ledokombo, Stasiun Sempolan, Stasiun Garahan, Stasiun Sumberwadung, Stasiun Argopuro, dan Stasiun Glenmore. Nah, salah satu stasiun yang hingga kini disinggahi dan memiliki desrinasi wisata untuk masyarakat adalah Stasiun Glenmore, sebuah daerah di Banyuwangi yang terkenal dengan pesona alam, perkebunan kakao berkualitas ekspor, serta jejak sejarah yang panjang.

Glenmore adalah kawasan di Banyuwangi yang menyajikan perpaduan alam hijau, udara sejuk, serta sejarah panjang. Nama Glenmore sendiri diyakini berasal dari Skotlandia atau Irlandia, berhubungan dengan pemukiman orang Katolik Skotlandia yang datang ke Hindia Belanda pada abad ke-18.

Pada abad ke-20, kawasan ini juga dikenal dengan perkebunan tembakau “Glenmore” milik Ros Taylor yang berkebangsaan Inggris. Kini, Glenmore berkembang menjadi simpul transportasi dan perekonomian.

Selain itu, kawasan ini memiliki situs purbakala dari zaman Neolitikum yang tersebar di area perkebunan seluas 3.800 hektare dengan suhu sejuk 20-27°C. Di sektor wisata, Glenmore menawarkan destinasi menarik sebagai berikut:
• Umbul Bening: taman rekreasi air dengan kolam luas, seluncuran, dan fasilitas keluarga.
• Doesoen Kakao: wisata edukasi yang memperkenalkan proses pengolahan cokelat dari hulu ke hilir.
• Wisata sungai dan sawah: cocok untuk menikmati suasana pedesaan dengan panorama senja.

Dengan adanya pemberhentian di Stasiun Glenmore, mobilitas masyarakat menuju pusat ekonomi, destinasi wisata, maupun pemukiman sekitar semakin lancar. Stasiun ini juga mendukung distribusi hasil perkebunan menuju pasar regional di Banyuwangi dan Jember.

Menurut Vice President Public Relations KAI Anne Purba, tambahan perhentian ini diharapkan mampu membuka lebih banyak peluang bagi wisatawan dan pelaku ekonomi lokal. Serta dapat membawa pelanggan langsung menuju salah satu mutiara alam dan budaya Indonesia di jalur selatan Banyuwangi – Jember.

Menipu! Terdengar Sangat “Eropa,” Padahal Stasiun ini Terletak di Jawa Timur

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru