Thursday, April 30, 2026
HomeDaratMelirik Stasiun Bumiayu, Dulu Cuma Halte Kini jadi Stasiun Perhentian di Kota...

Melirik Stasiun Bumiayu, Dulu Cuma Halte Kini jadi Stasiun Perhentian di Kota Kecil yang Strategis

Siapa yang tak kenal dengan stasiun dibwilayah Daerah Operasional (Daop) 5 Purwokerto dengan panorama yang indah ini. Berdekatan dengan jembatan terkenal yang bernama Sakalibel, stasiun ini berada di lokasi yang cukup strategis. Ya, Stasiun Bumiayu merupakan stasiun kelas II yang berada di petak antara Stasiun Linggapura dan Kretek.

Menurut laman resmi PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), Stasiun Bumiayu ini dulu hanya sebuah halte. Berada di ketinggian +236,45 meter di atas permukaan laut, Pembangunan Stasiun KA Bumiayu ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Cirebon-Prupuk/Margasari-Kroya sepanjang 158 kilometer.

Pengerjaannya dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS) di bawah pimpinan SS yang ke-11, Ir. M.H. Damme (1913-1919), pada tahun 1916/1917. Dan jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api untuk jalur bagian barat (Westerlijnen).

Usulan pembangunan jalur rel Cirebon-Prupuk/Margasari-Kroya ini sebenarnya sudah disetujui dengan dikeluarkannya Undang-Undang 31 Desember 1912 (de Wet van 31 December 1912). Karena keadaan selama Perang Dunia I, pelaksanaan konstruksi jalur rel tersebut menjadi tertunda. Tujuan pembangunan jalur tersebut adalah untuk memperpendek jarak antara Jakarta-Surabaya.

Sebelumnya jalur yang ditempuh antara Jakarta-Surabaya selalu melewati daerah Priangan selatan yang berkelok-kelok melintasi perbukitan yang sering menanjak. Sedangkan, untuk jalur yang melintasi Bumiayu ini memilik ketinggian tertinggi tidak lebih dari 340 meter, yang dapat di atasi antara Prupuk dan Purwokerto (56 kilometer) dengan kemiringan tidak lebih dari 14 persen dengan jalur melengkung sejauh 300 meter.

Pada masa itu, pembangunan stasiun ini bertujuan untuk memfasilitasi pengangkutan hasil bumi dari daerah Bumiayu dan sekitarnya, yang terkenal dengan pertanian dan perkebunannya. Stasiun Bumiayu menjadi titik penting untuk mengirimkan hasil pertanian seperti padi, sayuran, dan buah-buahan ke kota-kota besar serta pelabuhan untuk diekspor.

Seiring berjalannya waktu, Stasiun Bumiayu mengalami beberapa renovasi dan peningkatan infrastruktur. Salah satu momen penting dalam sejarah stasiun ini adalah ketika jalur ganda (double track) mulai diperkenalkan di lintas selatan Jawa, yang memungkinkan peningkatan kapasitas dan frekuensi perjalanan kereta api. Ini membuat Bumiayu semakin terhubung dengan pusat-pusat ekonomi lainnya di Pulau Jawa.

Kini Stasiun Bumiayu memiliki 4 jalur kereta api dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus. Jalur 2 digunakan sebagai sepur lurus arah ke Stasiun Kretek hingga Purwokerto, dan jalur 3 difungsikan sebagai sepur lurus arah ke Stasiun Linggapura hingga Cirebon.

Pun keberadaan Stasiun Bumiayu telah membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. Akses transportasi yang lebih baik tidak hanya memudahkan mobilitas penduduk, tetapi juga membuka peluang bagi perdagangan dan industri lokal untuk berkembang. Pasar lokal menjadi lebih hidup, dan peluang pekerjaan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

D52, Lokomotif Uap Modern Pasca Kemerdekaan Indonesia

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru