Sejarah pembangunan Metro Tehran adalah narasi panjang tentang ketahanan sebuah bangsa di tengah isolasi internasional. Ide pembangunan sistem transportasi bawah tanah ini sebenarnya sudah dicetuskan sejak tahun 1970-an, di masa pemerintahan Syah Iran, dengan bantuan konsorsium asal Perancis.
Namun, Revolusi Islam 1979 dan pecahnya Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an memaksa proyek ini mati suri selama bertahun-tahun. Kendala pembangunan tidak hanya datang dari sisi pendanaan, tetapi juga tantangan geografis Tehran yang memiliki kontur tanah keras dan kemiringan yang curam dari utara ke selatan.
Barulah pada tahun 1999, Metro Tehran melakukan debut resminya dengan pembukaan Jalur 5 yang menghubungkan Tehran dengan Karaj, menandai dimulainya era baru mobilitas modern di “Kota Pegunungan” tersebut.
Kini, Metro Tehran telah bertransformasi menjadi jaringan metro terbesar di Timur Tengah dengan tujuh jalur utama yang membentang lebih dari 300 kilometer. Stasiun-stasiunnya dikenal dengan arsitektur yang megah, bersih, dan sangat dalam, seperti Stasiun Tajrish yang berada di kedalaman lebih dari 50 meter di bawah permukaan tanah.
⚡️Tour Iran’s Holy Mary Metro Station in Tehran. https://t.co/wmBTvhwebd pic.twitter.com/6nfEyVVdgB
— War Intel (@warintel4u) October 16, 2025
Jaringan ini tidak hanya menghubungkan titik-titik vital ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga menjangkau Bandara Internasional Imam Khomeini (IKIA). Di tengah gempuran sanksi, Iran secara mengejutkan mampu memproduksi rangkaian kereta secara mandiri melalui Tehran Wagon Manufacturing, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa ketergantungan pada vendor asing seperti Tiongkok dan Eropa telah jauh berkurang.
Memasuki tahun 2026, di tengah eskalasi konflik yang melibatkan serangan udara dari Amerika Serikat dan Israel, status Metro Tehran bergeser dari sekadar sarana transportasi menjadi infrastruktur pertahanan sipil yang kritikal. Pemerintah Iran secara resmi telah mengaktifkan protokol perlindungan di mana stasiun-stasiun bawah tanah yang sangat dalam kini difungsikan sebagai bunker perlindungan bom (bomb shelter) bagi warga sipil.
This is the so-called “third world country”Iran metro station.
Nigeria do not have one but they think they are advanced than Iran pic.twitter.com/llRhkIffRR— Ghana Chronicles (@_GhChronicles) April 10, 2026
Dengan struktur dinding beton yang diperkuat dan kedalaman yang mampu menahan guncangan akibat ledakan konvensional di permukaan, stasiun metro menjadi titik evakuasi utama saat sirene peringatan udara berbunyi. Fasilitas pendukung seperti ventilasi udara khusus dan ketersediaan pasokan air di dalam stasiun menjadikannya perlindungan paling aman di tengah ancaman rudal balistik dan serangan udara.
Meskipun dalam kondisi perang, layanan Metro Tehran tetap beroperasi secara terbatas guna memastikan mobilitas logistik dan personel penting tetap berjalan. Namun, prioritas utama saat ini adalah keselamatan warga, di mana lorong-lorong stasiun kini dipenuhi dengan perbekalan darurat dan posko kesehatan.
Bagi masyarakat Tehran, metro bukan lagi sekadar cara untuk menghindari kemacetan kota yang kronis, melainkan jalur penyelamat (lifeline) yang menawarkan rasa aman di bawah tanah ketika langit di atas mereka dipenuhi oleh gemuruh jet tempur dan dentuman sistem pertahanan udara.
