Friday, April 24, 2026
HomeDestinasiInilah Kisah Dibalik Lahirnya KA Sri Tanjung beserta Asal Usul Penggunaan Namanya

Inilah Kisah Dibalik Lahirnya KA Sri Tanjung beserta Asal Usul Penggunaan Namanya

Paling digemari masyarakat untuk perjalanan dari Jawa Tengah hingga paling ujung timur Pulau Jawa, kereta api ini lahir. Ya, selain tarifnya masih dikenal sebagai harga tiket subsidi, namun dibalik sejarah lahirnya kereta api ini rasanya sangat menarik untuk dibahas. Apalagi jalur yang ditempuh disinggahi kawasan yang terkenal dengan ciri khasnya tersebut.

Ya, Kereta Api (KA) Sri Tanjung inilah yang jadi idola masyarakat yang hendak melakukan perjalanan tapi tetap dengan tarif yang murah. Rutenya pun cukup terkenal dengan berbagai kawasan yang juga digemari masyarakat khususnya pada area wisata. Diketahui bahwa KA Sri Tanjung melewati berbagai stasiun besar maupun kecil yang tentu memiliki bangunan cagar budaya yang hingga kini masih dipertahankan keasliannya.

Namun dari penamaan KA Sri Tanjung sendiri juga memiliki sejarah yang masih melekat di masyarakat. Apalagi yang sudah terbiasa menggunakan kereta api tersebut dengan rute Lempuyangan – Ketapang pulang pergi. Kereta api ini mengadopsi dari kisah asal-usul nama Kabupaten Banyuwangi. Cerita ini diangkat dari cerita rakyat Sri Tanjung berasal dari khazanah kebudayaan Jawa pada masa Kerajaan Majapahit.

Kisah itu memfokuskan pada karakter seorang istri bernama Sri Tanjung dan suaminya, Sidapaksa. Cerita dimulai ketika Sidapaksa menduga Sri Tanjung berselingkuh. Pada suasana duka, Sri Tanjung mengambil keputusan ekstrim untuk membuktikan kesetiaannya kepada suaminya.

Ia melompat ke dalam sumur sambil mengucapkan sumpah. Jika sumur beraroma busuk, maka tuduhan suaminya benar. Namun, jika sumur beraroma wangi, maka tuduhan itu salah. Ajaibnya, setelah Sri Tanjung melompat ke dalam sumur, aromanya berubah menjadi wangi. Ini dianggap sebagai bukti kesetiaan dan kejujuran Sri Tanjung.

Kini daerah sekitar sumur itu kemudian dikenal dengan nama “Banyuwangi,” yang berasal dari kata “banyu” (air) dan “wangi” (harum). Dan dipakai untuk nama KA Sri Tanjung. Hingga saat ini sumur yang konon menjadi saksi dari peristiwa itu masih ada. Lokasinya berada di belakang Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Kota Banyuwangi.

Saat ini KA Sri Tanjung menghadirkan pilihan perjalanan, meski kadang dianggap tidak nyaman karena kursi tegak dan adu dengkul. Walau agak menyiksa setidaknya jadwal kereta ini baik dari Banyuwangi atau Yogyakarta tetap bisa diandalkan penumpangnya.

Rangkaian yang terdiri dari tujuh kereta penumpang. Kelas ekonomi premium menjadi satu-satunya opsi kelas untuk para penumpang. Selain itu, terdapat satu kereta makan pembangkit kelas ekonomi dan satu kereta makan, menyediakan fasilitas yang memadai untuk berbagai kebutuhan selama perjalanan.

Mau Naik KA New Generation yang Semakin Nyaman? Berikut Ini Daftarnya

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru