Otoritas penerbangan sipil Israel mengeluarkan peringatan keras terkait kondisi operasional di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv. Bandara utama negara tersebut dilaporkan telah “berubah” menjadi pangkalan militer Amerika Serikat secara efektif, yang berdampak pada gangguan jadwal penerbangan sipil dan mengancam stabilitas keuangan maskapai nasional.
Kepala Otoritas Penerbangan Sipil Israel, Shmuel Zakay, mengungkapkan kekhawatirannya kepada Menteri Transportasi Miri Regev bahwa intensitas aktivitas militer di Ben Gurion menghambat kembalinya maskapai asing pasca-konflik. Zakay menyebut bahwa kehadiran puluhan pesawat militer AS—termasuk pesawat pengisi bahan bakar (refueling aircraft) yang terparkir di apron—telah membatasi ruang gerak operasional sipil.
Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia
Menurut Zakay, situasi ini memicu kenaikan harga tiket pesawat menjelang musim liburan musim panas yang krusial. “Mengubah Bandara Internasional Ben Gurion menjadi pangkalan militer merusak kepercayaan maskapai asing untuk kembali dan mengancam stabilitas keuangan maskapai Israel,” ujarnya mengutip laporan harian Yedioth Ahronoth.
Dampak paling nyata dirasakan oleh maskapai domestik seperti Israir, Arkia, dan Air Haifa. CEO Israir, Uri Sirkis, mengungkapkan bahwa akibat pembatasan ini, maskapainya yang biasanya memarkir 17 pesawat di Ben Gurion kini hanya diizinkan memarkir empat pesawat saja untuk menginap (overnight). Hal ini memaksa maskapai untuk memindahkan pesawat mereka ke luar negeri, yang secara otomatis meningkatkan biaya operasional dan bahan bakar.
Ketegangan regional yang meningkat sejak Februari 2026 telah mengubah peta penerbangan di wilayah tersebut. Zakay mendesak agar pesawat-pesawat militer AS dipindahkan dari Ben Gurion ke pangkalan militer resmi agar aktivitas penerbangan komersial dapat kembali normal. Ia menegaskan bahwa kerusakan pada sektor penerbangan sipil ini berdampak langsung pada publik dan ekonomi negara.
Kondisi di Ben Gurion menjadi pengingat bagi industri penerbangan global mengenai betapa rentannya konektivitas udara sipil ketika infrastruktur utama bandara harus berbagi ruang dengan kepentingan militer skala besar dalam durasi yang lama.
