Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker

0
Dalam upaya untuk menangani masalah coronavirus yang sedang berlangsung, Cathay Pacific Airways mengizinkan awak kabin untuk menggunakan masker saat bekerja pada penerbangan dari dan ke China daratan. Foto: The Points Guy UK

Maskapai Cathay Pacific secara resmi mengizinkan awak kabin untuk mengenakan masker bedah saat bertugas dalam penerbangan dari dan ke China daratan. Hal itu dilakukan akibat kekhawatiran terhadap coronavirus jenis baru yang semakin memuncak. Selain itu, maskapai pelat merah Hong Kong tersebut juga memberi pilihan kepada penumpang untuk membatalkan atau mengubah jadwal perjalanan mereka ke Wuhan (pusat penyebaran virus), tanpa dikenakan potongan hingga 15 Februari mendatang.

Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin

Munculnya keputusan Cathay untuk memberikan izin kepada para awak kabin agar dapat mengenakan masker tak lepas dari desakan yang terjadi di tubuh internal mereka. Sejak Selasa lalu, serikat pramugari Cathay, memang telah menyerukan izin untuk penggunaan masker di semua penerbangan secara global, karena kasus juga telah dikonfirmasi di Amerika Serikat, Thailand, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.

Desakan dari para serikat pramugari Cathay tersebut bisa dibilang sangat wajar. Mengingat, mereka (serikat pramugari) juga didesak oleh para anggota yang merasakan ancaman dari sekitar 300 penumpang dalam setiap penerbangan ke seluruh dunia sejak coronavirus pertama kali merebak.

“Semua dari mereka khawatir tentang risiko yang mereka ambil setiap kali mereka pergi bekerja,” kata serikat pekerja di halaman Facebook-nya, seperti dikutip laman japantimes.co, (Kamis, 23/1) . “Sudah waktunya bagi perusahaan untuk mengatasi kekhawatiran mereka dengan benar dan memungkinkan kru kabin memakai masker di semua penerbangan,” tulisnya.

Masih dalam kaitannya dengan pencegahan coronavirus, belum lama ini, Cathay juga mengatakan bahwa atas perintah dari otoritas kesehatan Hong Kong, pihaknya akan memperketat pengecekan kesehatan penumpang. Di samping itu, mereka juga akan menyediakan masker dan tisu antiseptik di gerbang keberangkatan dalam penerbangan dari Wuhan ke Hong Kong.

“Staf kami yang berhubungan langsung dengan penumpang diingatkan untuk selalu menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan, serta tetap siaga dan waspada saat sedang melayani penumpang yang mengalami gejala penyakit menular,” kata Cathay.

Seperti yang telah diketahui, wabah coronavirus, yang dimulai di kota Wuhan di Cina tengah, merebak ketika jutaan orang Cina bersiap untuk ‘pulang kampung’ dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek. Hal itu dikhawatirkan akan memperbesar risiko penularan. Sebab, dikabarkan, coronavirus sudah pada tahap penyebaran kepada sesama manusia.

Pihak berwenang di China sendiri telah melaporkan, pada Senin malam jumlah total infeksi coronavirus di China telah meningkat menjadi 217, termasuk 198 di Wuhan, 14 di Guangdong, dan 5 di Beijing. Tak lama setelah laporan itu dirilis, Komisi Kesehatan Nasional China mengkonfirmasi kasus pertama di Shanghai. Kemudian, pada Selasa lalu juga dikabarkan bahwa enam orang dinyatakan telah meninggal akibat virus corona jenis baru tersebut.

Cepatnya penyebaran coronavirus, tentu saja membuat langkah Cathay untuk bangkit dari keterpurukan semakin berat. Sejak protes anti-pemerintah dimulai Juni tahun lalu, maskapai tersebut telah merasakan dampak langsung anjloknya perjalanan dari dan ke Hong Kong; yang memaksa mereka mengurangi kapasitas dan menunda pengiriman empat pesawat. Bahkan, pada periode Januari ini, saham Cathay juga tengah anjlok sebesar 10 persen.

Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina

Analis Jefferies mengatakan, bila situasi ini kasus terus meningkat dan wabah coronavirus menyerupai wabah sindrom pernapasan akut 2003 (SARS), saham Cathay dan operator China daratan lainnya kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan dalam beberapa waktu mendatang,.

“Selama SARS pada 2003, harga saham mencapai titik terendah hanya tempo dua bulan setelah virus tersebut pertama kali dikonfirmasi oleh WTO pada 26 Februari 2003 dan membuat total perjalanan wisatawan ke China menurun hingga Juni 2003,” katanya.

Leave a Reply