Bangunan stasiun kereta api di Indonesia memang sudah melekat dengan sejarah yang panjang. Sejak jaman kolonial Belanda, perawatan yang dilakukan hingga kini masih bisa dinikmati masyarakat. Bahkan bagi pecinta sejarah pun bangunan kolonial Belanda terbilang unik dan pastinya awet.
Seperti halnya di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, sebagian besar bangunan dan arsitektur sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Stasiun kereta api hingga kini masih digunakan untuk tempat naik dan turun penumpang walaupun bangunannya sudah berusia lebih dari 1 abad. Tak hanya bangunan stasiun, ada pula bangunan kereta api lainnya yang masih bisa digunakan hingga kini.
Salah satu contoh stasiun di wilayah Daop 2 Bandung tersebut adalah Stasiun Cimahi. Siapa tak kenal dengan stasiun yang terkenal di kawasan Kota Cimahi ini. Ya, Stasiun Cimahi sering digunakan masyarakat untuk naik dan turun kereta api, baik kereta lokal maupun jarak jauh. Stasiun Cimahi sudah banyak melayani kereta api mulai dari kelas ekonomi, eksekutif hingga wisata.
Dari sisi sejarah, Stasiun Cimahi juga merupakan stasiun yang melegenda di kawasan tersebut. Stasiun Cimahi menjadi salah satu saksi sejarah dibangunnya jalur kereta api era Belanda adalah Stasion Cimahi yang hingga kini masih aktif. Stasiun Cimahi merupakan bagian dari pembangunan jalur Buitenzorg (Bogor) – Bandung – Cicalengka.
Bersumber pada heritage.kai.id, ada empat kereta api yang berhenti di Halte Cimahi. Yakni jurusan Bogor – Cicalengka (pp) dan kereta api dari Cianjur menuju Cicalengka (pp). Pada saat itu kecepatan rata-rata kereta berkisar 25-30 km/jam. Perjalanan dari Bogor ke Cicalengka dapat ditempuh kurang lebih selama 7,5 jam sedangkan Cianjur – Cicalengka sekitar 3,5 jam.
Seiring perkembangan waktu, Stasiun Cimahi kemudian diperbesar untuk untuk keperluan militer guna melegitimasi kekuasaan Belanda di Hindia Belanda (Indonesia). Apalagi ketika itu mulai dibangun Garnisun di Kota Cimahi.
Keberadaan stasiun ini dianggap sangat strategis untuk memudahkan para tentara KNIL. Apalagi stasiun tersebut dekat dengan rumah sakit militer (Rumah Sakit Dustira) dan markas-markas tentara KNIL.
Stasiun Cimahi yang dikelola PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) sudah mengalami perubahan, meski kesan heritage-nya masih terlihat. Pun masih ada sisa-sisa sejarah yang hingga kini dilestarikan, walaupun sudah tidak utuh. Salah satu peninggalan sejarah bangunan Stasiun Cimahi adalah tempat pengisian air (toren) untuk lokomotif uap.
Namun sangat disayangkan sebab talang air pada bangunan berbentuk kotak itu kini hilang tak terpasang lagi. Padahal tempat pengisian air tersebut merupakan ciri khas Stasiun Cimahi, sebab, tak semua stasiun terdapat bangunan yang serupa.
Saat ini Stasiun Cimahi telah menjadi bangunan Cagar Budaya yang menyimpan banyak cerita sejarah di dalamnya. Setelah melalui renovasi, wajahnya semakin cantik dengan menciptakan nuannsa klasik dengan sentuhan modern. Kereta Lokal Bandung Raya kini menjadi andalan masyarakat untuk berangkat ke Padalarang, Bandung, sampai Cicalengka.
Sejarah Stasiun Cicalengka: Saksi Bisu Pengasingan Trio Pribumi di Era Kolonial Belanda
