Bunyi Lonceng Kereta di Perlintasan Sebidang, Antara Manfaat dan Penebar Polusi Suara

Seiring meningkatnya trafik perjalanan kereta dan pertumbuhan arus kendaraan di kota-kota besar, jalur perlintasan sebidang memang cepat lambat bakal dihapuskan. Namun itu bukan perkara mudah, mengingat jumlah perlintasan yang cukup banyak, menjadikan penghapusan perlintasan sebidang dengan pembuatan jembatan atau terowongan membutuhkan dana yang cukup besar.

Baca juga: Jalur Perlintasan KA, Masih Jadi Momok Menakutkan

Dengan meningkatnya trafik perjalanan kereta, maka secara langsung berimbas pada kian seringnya lonceng peringatan berbunyi. Bunyi lonceng peringatan yang cenderung memekakkan telinga dituding menjadi polusi suara yang mengganggu penduduk di sekitaran, tapi harus diakui hal tersebut dilakukan PT KAI untuk alasan keselamatan semata. Masalah ini sangat krusial, karena perlintasan kereta sering kali menjadi tempat warga meregang nyawa akibat beragam modus kecelakaan. Bunyi lonceng yang keras, meski membuat sakit kuping terpaksa diaktifkan tak lain agar warga pelintas memiliki situational awareness tinggi.

Dan perlu diketahui, pancaran bunyi pada lonceng di perlintasan sebidang di Indonesia tak asal dibunyikan, melainkan semuanya merujuk pada standar internasional. Hal ini dikatakan oleh Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional 1 (DaOp) Suprapto. “Untuk standar semua rambu-rambu lalu lintas diperlintasan sebidang antara jalur rel dan jalan raya ikut internasional. Dari tulisan Stop, bunyi lonceng, warna dan cahaya,” kata Suprapto yang dihbungi KabarPenumpang.com melalui pesan singkat, Jumat (15/9/2017).

Dia mengatakan, untuk standar suara adalah bunyi dan terkait intensitas kekuatan suaranya tergantung dari kondisi sekitar perlintasan tersebut. Sehingga bila kondisi sedang sepi, ada kemungkinan jarak suara akan semakin jauh dibandingkan dengan saat ramai kendaraan. Suprapto menjelaskan sinyal bunyi berguna untuk masyarakat yang tuna netra, sedangkan sinyal cahaya dan warna palang pintu untuk warga yang menderita tuli atau tuna rungu. Sehingga semua rambu di desain bagi semua kalangan masyarakat.

KabarPenumpang.com mengutip dari kiwirail.co.nz, bahwa KiwiRail yang beroperasi di Selandia Baru memiliki 742 perlintasan publik yang diberikan lonceng atau sirine sebagai penanda kereta akan lewat.
Uniknya, lonceng yang berada diperlintasan kereta dimatikan antara pukul 10.30 malam hingga 07.00 pagi. Hal ini tidak sesuai dengan peraturan internasional. Bahkan ketika ada tanda-tanda lonceng akan dimatikan untuk para penyeberang jalan, lonceng terkadang masih menyala dalam waktu singkat.

Di Selandia Baru sendiri ada lonceng elektronik yang memiliki bunyi lebih tenang dari biasanya dan dipasang pada 56 perlintasan. Satu diantara lonceng dengan bunyi lebih tenang ini berada di daerah perkotaan besar. Untuk lonceng elektronik dengan bunyi tenang ini memiliki manfaat dimana tingkat suara bisa disesuaikan dibawah standar normal yakni 85-105dBA dengan minimum 75dBA. Untuk standar keselamatannya pun sudah mengikuti internasional.

Baca juga: Hadapi Perlintasan KA, Jangan Panik Tetap Waspada!

Suara yang dihasilkan memiliki pola memencar omni directional dan lebih terlokalisasi daripada lonceng elektro mekanis tradisional. Tak hanya itu, KiwiRail sendiri berencana untuk memasang lonceng yang tenang di beberapa perlintasan dimana lonceng tradisional dimatikan pada malam hari.

Pemasangan ini mempertimbangkan adanya tempat tinggal yang sangat dekat dengan perlintasan kereta. Sebab, bunyi lonceng ini sangat mengganggu penduduk bila malam hari. Untuk pemasangan lonceng ini, nantinya juga menunggu persetujuan otoritas jalan raya.

Otoritas jalan ini dilibatkan karena jika lonceng yang dipasang tetap pada suara normal, akan mengganggu penduduk, sedangkan bila lonceng elektronik ini yang dibunyikan bisa menjadi masalah keamanan bagi pejalan kaki. Resiko akan lebih berbahaya dan kebisingan suasana di persimpangan biasanya digunakan oleh orang tuna netra.