Di Tengah Wabah Corona, KLM Putuskan Jemput Traveler di Hong Kong dan Seoul

0
Boeing 777 milik KLM. Sumber: istimewa

Sebelum kasus virus corona di Italia, Spanyol, dan Iran melonjak tajam, Korea Selatan adalah nomor kedua terbanyak setelah Cina yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19 di dunia. Hingga 19 Maret lalu, Negeri Ginseng itu tercatat 8,413 kasus dengan 84 di antaranya meninggal dunia. Tak heran bila negara-negara lain melakukan pembatasan perjalanan dari negara tersebut, tak terkecuali pemerintah Indonesia.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Dikutip dari nltimes.nl, di tengah pemberlakuan pembatasan perjalan dari negara tersebut oleh banyak negara di dunia, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang akrab disingkat KLM dilaporkan justru malah diizinkan oleh otoritas penerbangan Belanda untuk melakukan penerbangan repatriasi. Penerbangan repatriasi sendiri adalah penerbangan yang dimaksudkan untuk memulangkan kembali warganya yang masih terjebak di Korea Selatan.

Di samping memulangkan warga negara Belanda, penerbangan tersebut juga dimaksudkan untuk memulangkan kembali warga dari negara-negara dengan visa Schengen, seperti Jerman, Yunani, Hungaria, Italia, Islandia, Perancis, Republik Ceko, Austria, Estonia, Finlandia, Luxemburg, Norwegia, Slovakia, Slovenia, Latvia, Spanyol, Lithuania, Polandia, Swiss, Denmark, Swedia, Malta, Belgia dan Portugal.

Dalam laporan The Telegraph, KLM disebut akan melakukan dua penerbangan repatriasi pada Selasa dan Kamis waktu setempat. Oleh karenanya, para travelers yang masih terjebak di Korea dan ingin kembali ke Eropa disarankan untuk segera menghubungi pihak KLM. Belum jelas penerbangan tersebut akan memakai pesawat jenis apa. Hanya saja, bila melihat dari penerbangan repatriasi lainnya, penerbangan Seoul-Amsterdam mungkin juga akan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner.

Selain melayani penerbangan repatriasi ke Seoul, Royal Dutch Airlines atau KLM juga akan melayani penerbangan serupa ke HongKong. Untuk penerbangan ke Hongkong, maskapai dilaporkan membuka penerbangan lebih banyak dibanding ke Seoul. Dilihat KabarPenumpang.com dari situs flightstats.com,setidaknya terdapat empat jadwal penerbangan repatriasi ke Hongkong, mulai dari hari Senin hingga Kamis mendatang.

Dengan penerbangan repatriasi tersebut, maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi dengan nama yang sama dengan ketika pertama kali berdiri itu mungkin akan sedikit ‘terselamatkan’ di tengah anjloknya cash flow maskapai penerbangan di dunia akibat wabah Covid-19. Selain itu, penerbangan repatriasi juga sekaligus membatalkan pengumuman maskapai sebelumnya terkait penangguhan perjalanan dari dan ke Hong Kong, Korea Selatan, dan Italia mulai 14 hingga 28 Maret mendatang.

Efek positifnya, mungkin, lewat penerbangan repatriasi dengan dipenuhi penumpang, akan ada karyawan yang ‘selamat’ dari gelombang PHK massal yang dilakukan perusahaan. Sebelumnya, maskapai asal Belanda tersebut dilaporkan akan melakukan pengurangan 30 persen karyawan atau sekitar 1.500-2.000 karyawannya di seluruh dunia.

Baca juga: Buat Toilet “Eksklusif,” Pramugari KLM Dituduh Rasis Terkait Virus Corona

Akan tetapi, bila berbicara efek negatif, penerbangan repatriasi di tengah wabah Covid-19 mungkin terkesan mengorbankan awak kabin. Salah satu anggota dari Asosiasi Kabin Kru Belanda atau Dutch Cabin Crew Association, Chris van Elswijk, menyebut bahwa kru kabin mungkin akan kesulitan untuk menjalankan protokol kesehatan semacam social distancing atau batas jarak hingga 1,5 meter antara satu dengan yang lainnya.

“Jika Anda bekerja di pesawat penuh dengan 300 penumpang, Anda tidak dapat memenuhi pedoman yang ditetapkan,” katanya.

Leave a Reply