“Drone” Jatuh di Lintasan Rel, Kereta Cepat 300 Km Per Jam Aktifkan Rem Darurat

Fuxing, Kereta Peluru Cina. Sumber: nydailynews.com

Bukan perkara mudah bagi kereta peluru yang melesat 300 km per jam untuk berhenti dalam moda darurat, bila salah prosedur kecelakaan fatal bisa terjadi. Inilah yang menimpa kereta cepat Fuxing di daerah Luan, Provinsi Hebei di Cina bagian utara. Pangkal musabab pemberhentian darurat kereta rute Beijing-Tianjin ini karena jatuhnya sebuah drone di perlintasan rel.

Baca juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan

Pihak kepolisian menganggap kejadian tersebut sebagai sesuatu yang serius, pasalnya secara langsung mengancam keselamatan penumpang di dalam kereta. Dikutip KabarPenumpang.com dari South China Morning Post (3/9/2017), tidak disebutkan waktu kejadian insiden ini, pun seberapa dekat antara lokasi jatuhnya drone dengan posisi kereta tidak disebutkan. Namun dari hasil investigasi, telah ditetapkan seorang tersangka yang berprofesi sebagai petani di desa terdekat, di gunung Qinglong.

Masih dari sumber yang sama, pria yang tak disebutkan identitasnya ini dikabarkan tengah menerbangkan drone dalam rangka uji coba, sayangnya aksi coba-coba tersebut dilakukannya di dekat perlintasan kereta cepat. Sebagai kereta cepat, jalur Beijing-Tianjin adalah jaringan rel yang eksklusif dan dilengkapi jalur listrik bertegangan tinggi.

Menurut pilot drone amatir tersebut, dirinya kehilangan kendali atas pesawatnya, dan menyebabkan pesawat mini dengan kendali remote ini jatuh di tengah lintasan rel. Jatuhnya benda asing di tengah lintasan secara otomatis memicu aktivasi alarm di dalam sistem keamanan kereta, dan secara otomatis kereta berhenti mendadak dengan rem darurat. Akibat jatuhnya drone ini jadwal perjalanan sempat tertunda selama 20 menit.

Atas perbuatannya, tersangka terkena ancaman Undang-Undang Keamanan Publik, dengan sanksi penjara selama beberapa tahun. Meski media Cina menyebutkan yang jatuh adalah drone, namun dari penampakan di foto yang terlihat justru serpihan pesawat remote control yang dikendalikan lewat radio. Berbeda dengan drone, pesawat remote tidak punya kemampuan terbang otonom, dan tak mempunyai kemampuan untuk mencegah manuver berbahaya.

Baca juga: Sebuah Drone Hambat Aktifitas Bandara Indira Gandhi Hingga 40 Menit

Menyimak dari kejadian ini, pelatihan pilot (operator) drone menjadi sesuatu yang penting, apalagi jika menerbangkan drone di daerah yang beresiko menyebabkan kecelakaan. Setelah pembatasan drone di kawasana bandara, apakah nantinya drone juga dilarang terbang di dekat jalur rel kereta? Semoga ada regulasi yang jelas untuk keselamatan bersama.