Johor Baru – Singapura via Rapid Transit System di Tahun 2022

0
Libursantai.com

Bila Indonesia masih berkutat pada implementasi rapid transit untuk moda angkutan massa di kota-kota besar. Lain dengan Malaysia dan Singapura, kedua negara tetangga ini telah mencanangkan pembangunan Rapid Transit System Johor – Singapura (RTS) yang direncanakan beroperasi di tahun 2022. Saat ini proyek dalam tahap akhir diskusi oleh Otoritas pembangunan Daerah Iskandar (IRDA).

Baca juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura

CEO IRDA Datuk Ismail Ibrahim mengatakan, bahwa adanya RTS ini sangat penting unuk menghubungkan wilayah ekonomi di Malaysia dan Singapura. “Kami berada pada tahap akhir diskusi untuk menghubungkan Singapura dan mudah-mudahan di tahun 2020, Bus Rapid Transit (BRT) di Johor sudah bisa terhubung dengan sistem transportasi Singapura,” ujar Ismail yang dilansir KabarPenumpang.com dari theedgemarkets.com (2/5/2017).

Ismail Ibrahim menambahkan, sistem BRT di Iskandar Malaysia harus selesai terlebih dahulu pada 2020 mendatang dan untuk RTS ditargetkan akan dimulai pada 2022 dan Malaysia – Singapura High-Speed Rail tahun 2026. Sebab menurut Ismail hingga kini pihaknya belum merencanakan untuk membangun Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT) di Malaysia untuk sekarang-sekarang ini.

CEO The Iskandar Regional Development Authority (IRDA) Datuk Ismail Ibrahim (Youtube)

“Johor – Iskandar Malaysia secara khusus tidak memiliki populasi yang cukup besar untuk mendukung sistem transportasi semacam itu. Tentu, kami sadar akan pentingnya transportasi umum di wilayah ini, tapi ini bukan saat yang tepat. Kota seperti Brisbane di Australia  misalnya, telah membuktikan bahwa BRT dapat memindahkan orang-orang dengan sangat baik dengan cara yang terjangkau dan efisien, “katanya.

Menurutnya, dengan penduduk dua juta orang, Johor belum bisa mendukung adanya MRT atau LRT tersebut dan lebih memilih BRT dan RTS yang lebih hemat biaya. Dia mengatakan, jangan membandingkan Johor dengan Kuala Lumpur yang memiliki penduduk lebih banyak, tak hanya itu juga menurutnya saat ini Johor adalah wilayah yang baru dikembangkan yakni di kota Iskandar.

Baca juga: Tarif LRT Jakarta Diputuskan Rp12 Ribu

Namun bagi wisatawan asing termasuk orang Singapura sendiri, Johor memiliki citra negatif dalam hal keamanan dan potensi pertumbuhannya. Ismail mengatakan, untuk mempromosikan Johor agar dikenal dunia lebih baik maka industri publikasi dan swasta harus membantu.

“Beberapa warga Singapura belum pernah mengunjungi Johor selama beberapa tahun belakangan. Ini yang membuat kesan kalau Johor memiliki citra negatif. Kita perlu mempromosikan Johor Bahru dan kami tidak dapat menyangkal untuk mempromosikan Johor dengan potensi di dalamnya melalui bantuan swasta, terutama mereka yang sudah berinvestasi di negara bagian ini,” kata Ismail.

Tak hanya itu, Ismail juga menjelaskan dampak kebijakan kontrol modal Cina pada penjualan properti di Johor salah satunya adalah proyek pengembangan oleh Cina dan ditargetkan para pembelinya berasal dari Cina. Menurutnya untuk mengontrol modal ini pihaknya harus memantau situasi dengan lebih hati-hati. Sebab dilihat dari trend yang dilakukan Cina adalah kebijakan yang diperbarui setiap satu atau dua tahu sehingga situasi bisa berubah dalam waktu singkat.

Leave a Reply