Rasanya tak ada habisnya berbagai platform media sosial membahas tentang stasiun nasional yang menjadi tulang punggung kedatangan dan keberangkatan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Apalagi berbagai wacana yang salah satunya pengoperasian layanan Kereta Rel Listrik (KRL) akan diberlakukan di stasiun nasional ini. Ya, Stasiun Gambir bakal terus menjalani revitalisasi besar-besaran pada tahun 2028 mendatang.
Rencana tersebut mengingatkan kembali perjalanan panjang Stasiun Gambir yang pernah melayani KRL sebelum akhirnya fokus sebagai stasiun KAJJ. Diketahui Stasiun Gambir adalah sebuah stasiun kelas besar tipe A yang berada di Jakarta Pusat. Terletak di ketinggian +16 meter di atas permukaan laut, Stasiun Gambir masuk dalam Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta.
Stasiun Gambir Jadi Stasiun Nasional, Pemberhentian KRL dan KAJJ Bakal Berdampingan
Melalui informasi akun resmi KAI, cikal bakal Stasiun Gambir bermula dari sebuah halte sederhana bernama Halte Koningsplein yang berdiri pada 1871. Halte ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) di kawasan yang saat itu masih berupa tanah rawa, tepatnya di sekitar Lapangan Raja atau Koningsplein yang kini menjadi kawasan Silang Monas.
Halte tersebut melayani perjalanan kereta Batavia menuju Buitenzorg atau Bogor. Seiring meningkatnya jumlah penumpang, NISM kemudian membangun Stasiun Weltevreden pada 4 Oktober 1884 di lokasi Stasiun Gambir saat ini. Bangunan baru itu memiliki konstruksi yang lebih kokoh dengan atap besi yang ditopang tiang besi cor.
Menurut keterangan KAI, pengelolaan Stasiun Weltevreden beralih kepada Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913. Setelah itu dilakukan renovasi besar pada 1928 sehingga bangunan stasiun mengusung gaya arsitektur art deco dengan perluasan atap di sisi utara. Kemudian pada tahun 1937, nama stasiun berubah menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Saat itu, stasiun tersebut menjadi salah satu simpul transportasi terpenting di Hindia Belanda karena hampir seluruh perjalanan kereta api jarak jauh singgah di lokasi tersebut.
KAI juga menjelaskan bahwa penyebutan nama Stasiun Gambir diduga mulai populer sekitar 1922 ketika masyarakat lebih sering menyebut kawasan Koningsplein sebagai Lapangan Gambir. Nama itu kemudian terus digunakan hingga setelah Indonesia merdeka. Namun di sisi lain, ada pula yang mengatakan kalau namanya diambil dari nama seorang Letnan Belanda keturunan Prancis bernama Gambier. Konon ia ditugaskan oleh Daendels untuk membuka jalan ke arah selatan.
Transformasi besar kembali terjadi pada 1988 ketika pemerintah membangun jalur layang Jakarta Kota-Manggarai. Bangunan lama Stasiun Gambir dibongkar dan digantikan dengan bangunan baru yang diresmikan pada 5 Juni 1992. Bangunan tiga lantai dengan empat jalur kereta itu mengadopsi bentuk atap bergaya Joglo yang masih menjadi ciri khas hingga sekarang.
Setelah diresmikan sebagai stasiun layang, Stasiun Gambir masih melayani perjalanan KRL selama beberapa tahun. Namun, layanan KRL di Stasiun Gambir resmi dihentikan pada 2012. Pemberhentian KRL kemudian dialihkan ke Stasiun Gondangdia dan Stasiun Juanda, sementara Stasiun Gambir difokuskan sebagai stasiun utama yang melayani perjalanan kereta api jarak jauh.
Wacana mengembalikan layanan KRL di Stasiun Gambir kembali mencuat seiring rencana transformasi kawasan stasiun. Meski sudah beberapa kali dibahas dalam beberapa tahun terakhir, hingga kini rencana tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum direalisasikan.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah tengah menyiapkan transformasi Stasiun Gambir agar dapat melayani kereta api jarak jauh sekaligus KRL. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari program beautifikasi untuk memperkuat konektivitas transportasi perkeretaapian.
Kehadiran layanan KRL di Stasiun Gambir tidak akan mengurangi peran Stasiun Manggarai sebagai simpul utama perkeretaapian. Sebaliknya, kedua stasiun akan memiliki fungsi yang saling melengkapi sehingga perpindahan penumpang antarmoda menjadi lebih mudah. Apabila terealisasi, Stasiun Gambir akan kembali melayani KRL setelah lebih dari satu dekade berhenti menjadi pemberhentian kereta komuter.
Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa
