KLM Terancam Bangkrut Gegara Greenpeace Desak Pemerintah Hentikan Bantuan Rp56 Triliun

0
Boeing 747-400 “Queen of The Skies” KLM. Foto: Airplane-Pictures.net

Maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, KLM, terancam gulung tikar alias bangkrut. Hal itu terjadi lantaran organisasi lingkungan terkemuka di dunia, Greenpeace, menuntut pemerintah Belanda untuk mencabut dukungan finansial sebesar US$ 4 miliar atau sekitar Rp56 triliun (kurs Rp14.111) terhadap maskapai nasionalnya itu.

Baca juga: Gegara Covid-19, Kereta Jadi Pilihan Favorit Berlibur Ketimbang Pesawat! Ini Alasannya

“Desakan untuk menghentikan dukungan finansial secepatnya akan merusak kemampuan perusahaan untuk meminjam uang dan sulit untuk melihat bagaimana hal ini tidak berisiko bangkrut,” kata seorang pengacara yang mewakili pemerintah, Karlijn Teuben, saat melakukan pembelaan atas gugatan Greenpeace di pengadilan Den Haag, seperti dikutip dari Simple Flying.

Gugatan Greenpeace terhadap KLM bermula dari paket stimulus bersyarat yang diberikan pemerintah. Pemerintah menjanjikan paket stimulus ke KLM dengan imbalan agar perusahaan berkomitmen untuk mengurangi setengah dari emisi gas rumah kaca di level 2005 pada 2035 mendatang.

Sampai di sini, tak disebutkan dengan jelas seperti apa emisi gas rumah kaca pada tahun 2005 lalu yang dimaksud.

Yang pasti, Greenpeace bersikukuh bahwa KLM tak akan mampu menjalankan komitmen tersebut. Sebab, penumpang pesawat diperkirakan bakal terus meningkat seiring berjalannya waktu. Pandangan Greenpeace tentu bukan tanpa dasar. Pada tahun 2018, IATA memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037.

“Perubahan iklim berbahaya dan sedang terjadi sekarang. Pemerintah telah kehilangan kesempatan untuk menangani polusi yang disebabkan oleh penerbangan saat ini,” kata pengacara Greenpeace, Frank Peters.

Dewasa ini, sekalipun masih di bawah pandemi virus Corona, nyatanya dari data FlightrRadar24, jumlah penerbangan memang kian meningkat setiap bulan. Selain itu, hasil analisis (Airports Council International) Eropa menunjukkan, sepanjang Juli, Agustus, dan September telah terjadi peningkatan lalu lintas udara di Eropa.

Sejauh ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Protes Greeanpeace melalui jalur hukum dan campaign di bandara lewat aksi teatrikal dan pemasangan berbagai spanduk kecaman bukanlah kali pertama terjadi. Mei lalu, massa dari organisasi itu pernah ‘menyerbu’ Bandara Schiphol, Belanda, dan menduduki salah satu runway.

Saat itu, mereka menuntut pemerintah agar mengurangi batas atas CO2, mengurangi frekuensi penerbangan, dan menjadikan kereta api sebagai pengganti penerbangan jarak pendek. Selain itu, para pengunjuk rasa juga meminta agar dukungan pemerintah untuk semua bisnis dibuat dengan syarat tuntutan lingkungan yang ketat sesuai dengan Paris agreement.

Tuntutan Greenpeace agaknya memang sejalan dengan proyeksi besar Uni Eropa. Sejak beberapa waktu lalu, Komisi Eropa memang sudah berniat menjadikan tahun 2021 sebagai “Tahun Kereta Eropa”, yakni wujud dari dukungan untuk Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal).

“Tahun Kereta Eropa” nantinya menjadi landasan utama negara-negara Uni Eropa untuk mengembangkan akses jaringan kereta api di seluruh sudut kawasan serta mempromosikan perjalanan dengan menggunakan moda transportasi itu.

Baca juga: Pesawat Flying-V KLM-TU Delft Sukses Terbang Perdana! Lebih Hemat 20 Persen Dibanding A350

Tujuan besar dari langkah-langkah di atas tentu mengarah pada turunnya emisi gas rumah kaca (netralitas iklim) pada 2050 mendatang. Bila berhasil, Uni Eropa akan menjadi benua “blok netral-iklim” pertama di dunia, mengalahkan paket stimulus Green New Deal yang diusulkan Amerika Serikat. Target terdekat dalam Kesepatan Hijau Eropa terjadi pada 2030 mendatang, dimana emisi gas rumah kaca diproyeksikan turun hingga 55 persen.

Di Eropa Utara, bahkan, masyarakat secara organik, massif menggaungkan “flight shaming” atau menanamkan rasa malu ketika bepergian menggunakan pesawat, yang notabene belum ramah lingkungan karena masih menggunakan bahan bakar fosil.

LEAVE A REPLY